RMI Jateng Sanggup Tampung 4 Ribu Anak Korban Tsunami
Selasa, 04 Jan 2005 15:03 WIB
Semarang -
Sebagai bentuk kepedulian terhadap bencana gempa dan tsunami di Aceh, RMI (Robithatul Ma'ahidil Islamiyah) Jateng menyiapkan dua pondok pesantren (ponpes) untuk menampung 4 ribu anak asal Aceh.Kedua ponpes itu adalah Ponpes API Tegalrejo Magelang dan Ponpes Al Hidayat Lasem Rembang. Melalui dua ponpes itu, anak-anak korban bencana di Aceh nantinya akan ditempatkan di ratusan ponpes yang ada di Jateng."Kami tidak hanya menampung, tapi juga menyekolahkan mereka. Di ponpes kan banyak yang memiliki sekolah setingkat SMP atau SMU. Jadi kami bisa salurkan ke sana," kata Ketua RMI Jateng Zaim Ahmad ketika dihubungi beberapa wartawan melalui ponselnya, Selasa (4/1/2005).Mengenai biaya selama penampungan, Zaim menjelaskan pihaknya tidak akan memungut sepeser pun. Terutama berkaitan dengan makan, minum, dan kebutuhan sehari-hari. Tapi untuk biaya sekolah, pihaknya ingin pemerintah ikut menanggungnya."Minimal pemerintah membantu menyediakan alat tulis, buku penunjang, dan lain-lain. Soal makan dan minum, gampanglah. Di pondok kan nggak pernah kekurangan kebutuhan seperti itu," tandasnya.Soal keinginan menampung anak korban bencana Aceh, Zaim yang juga Ketua PCNU Lasem Rembang ini mengatakan, pihaknya telah mengoordinasikan dengan beberapa pejabat pemerintah secara personal. RMI juga telah mengontak ke beberapa orang di Aceh. Tapi hingga kini, belum ada jawaban.Lebih lanjut Zaim menegaskan, pihaknya sudah menerima 382 anak korban bencana Aceh di Lasem. Selain itu, 70 anak lainnya juga sudah tiba di Rembang. "Mereka ditempatkan di ponpes yang ada SMK-nya," jelasnya.Program penampungan ini, lanjutnya, merupakan kerja sama dengan RMI Jatim. Karena mempunyai lebih banyak ponpes, Jatim juga mampu menampung lebih banyak yakni sebanyak 6 ribu. Sedangkan, di Jateng hanya dijatah 4 ribu anak saja."Kami yakin keinginan RMI akan disetujui pemerintah. Karena larangan membawa anak keluar Aceh itu hanya diperuntukkan bagi balita. Tapi tidak berlaku bagi anak-anak usia sekolah," kata Zaim ketika ditanya soal adanya larangan pemerintah membawa anak korban bencana keluar Aceh.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































