Sinyal-sinyal perpecahan koalisi Merah Putih sudah terbaca pasca penetapan presiden dan wakil presiden terpilih 22 Juli lalu, meski sebelumnya telah ada deklarasi koalisi permanen. Internal sejumlah parpol Koalisi Merah Putih bergolak, menuntut partainya berubah haluan mendukung Jokowi-JK di pemerintahan.
Gejolak di Golkar dan PPP yang paling terlihat. Sejumlah kader di dua partai itu menuntut perubahan kepemimpinan di partainya. Menuntut nahkoda yang mau mengubah haluan ke Jokowi-JK.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paling jelas, PD tak mengutus elite DPP untuk menandatangani kontrak politik koalisi permanen 14 Juli lalu. PD juga kerap absen dalam kegiatan-kegiatan koalisi Merah Putih, seperti dalam jumpa pers pernyataan sikap atas putusan MK Kamis (21/8) malam tadi. Karena tak hadir dalam jumpa pers itu, PD juga tak menandatangani sikap politik koalisi Merah Putih atas putusan MK.
Presiden Terpilih Jokowi juga telah membeberkan bahwa PD, bersama PAN, sedang bernegosiasi dengan kubunya. Jokowi bahkan menyebut dua partai itu kemungkinan bakal segera merapat.
Namun Jubir Tim Prabowo-Hatta, Tantowi Yahya, menepis kemungkinan rontoknya Koalisi Merah Putih. Tantowi menegaskan koalisi yang dipimpin Golkar itu solid, termasuk PAN, yang disebutnya akan tetap setia. Tantowi juga menegaskan koalisi Merah Putih juga akan tetap berjuang untuk Indonesia.
"Perjuangan tetap kami lanjutkan untuk kebangkitan Indonesia. Kita tidak akan membiarkan satu detikpun perjuangan pendiri bangsa dikhianati. Kita harus merdeka dan berdiri di atas kaki kita sendiri," ujar Tantowi di Hotel Grand Hyatt semalam.
Meski demikian, publik tak tutup mata menyaksikan dinamika di internal sejumlah parpol Koalisi Merah Putih. Pergolakan begitu hebat, bisa jadi ada penggulingan kepemimpinan. Akankah koalisi Merah Putih tetap kuat bertahan?
(trq/try)











































