Selain itu agar pengunjung tidak merusak, menebang tanaman maupun batuan di Bukit Pianemo. "Tangga ini dibangun salah satu tujuannya agar masyarakat yang datang tidak merusak (lingkungan)," kata Agung di Puncak Bukit Pianemo, Rabu (20/8/2014).
Pembangunan tangga tersebut pun tak boleh menebang pohon, merusak batuan dan tanah di bukit tersebut. Bagaimana kisah pembuatan tangga itu?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak mudah membuat tangga tersebut. Pembuatan tangga tersebut tak boleh menebang satu pun batang pohon, atau merusak batuan dan tanah di bukit tersebut.
"Jadi dicari medan yang tak harus menebang pohon, atau menggempur tanah," kisah Andri. Sehingga jangan heran saat naik menuju puncak bukit Pianemo ada batang pohon di tengah-tengah tangga.
Kayu yang digunakan untuk membuat tangga merupakan kayu besi. Semua kayu didatangkan dari luar Raja Ampat. Sulitnya medan juga menjadi kendala saat membawa papan-papan kayu ke atas bukit. Masalah lainnya adalah semua material yang digunakan, seperti paku, gergaji didatangan dari Waisai.
Semua peralatan itu diangkut menggunakan speed boat dengan biaya carter Rp 8 juta sekali angkut. "Kalau ada masalah, misalnya paku kurang, atau mesin gergaji mogok harus nunggu speed boat dari Waisai," kata Andri.
Kini tangga sudah jadi. Pengunjung yang ingin menikmati deretan pulau di Raja Ampat bisa lebih mudah menuju puncak bukit Pianemo.
Namun ingat, jangan merusak tanaman dan lingkungan di bukit Pianemo.
(erd/rvk)











































