Saat Mbah Samsuri Juru Kunci Bicara Mitos dan 'Memanasnya' Gunung Slamet

Saat Mbah Samsuri Juru Kunci Bicara Mitos dan 'Memanasnya' Gunung Slamet

- detikNews
Kamis, 21 Agu 2014 17:55 WIB
Mbah Samsuri (Foto: Arbi Anugrah/detikcom)
Banyumas - Mbah Samsuri (89), juru kunci Gunung Slamet, meyakini gunung tertinggi di Jawa Tengah yang terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya sejak awal Maret itu hanya 'batuk'. Aktivitas Slamet dipercaya berkaitan dengan suasana politik nasional, khususnya pilpres.

Sore itu, Rabu (20/8/2014), Mbah Samsuri bersantai di teras rumahnya, Desa Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Banyumas. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan sarung berwarna cokelat. Usai bersalaman dan mempersilakan duduk, dia menegur wartawan.

"Ngapain ke sini lagi, ga kapok saya marahin. Slamet itu tidak akan meletus," kata Mbah Samsuri dengan logat Banyumasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternyata, Mbah Samsuri kesal terhadap pemberitaan yang berlebihan terhadap kondisi Gunung Slamet. Menurut dia, gunung setinggi 3.432 mdpl itu tidak akan meletus. Kemarahan Mbah Samsuri tidak lama. Raut ramahnya kembali tampak.

Selama ini, Mbah Samsuri dikenal warga sebagai kuncen atau juru kunci Gunung Slamet. Tapi dia selalu menyangkal julukan tersebut. "Saya bukan juru kunci, saya belum boleh sama leluhur Slamet. Tapi kalau ada apa-apa memang tanggung jawab saya," tuturnya.

Dia mengatakan Gunung Slamet menunjukkan aktivitasnya dalam siklus 5 tahunan. Gunung tersebut marah karena konflik politik yang tidak jelas arahnya. Seperti wayang yang sedang perang hingga membuat dalangnya kebingungan.

"Yang di atas ini masih bertengkar terus. Ini yang membuat Gunung Slamet batuk, karena si Mbah bingung," kata lelaki tua yang mengaku pernah mengantar Soekarno naik ke Gunung Slamet tahun 1957 ini.

"Kalau konflik belum selesai (pilpres), Slamet tidak akan berhenti. Tapi kalau yang di sana sudah selesai, Slamet pasti berhenti. Lihat saja nanti," tambahnya.

Bagi masyarakat kebatinan Jawa, Gunung Slamet dikenal sebagai pulak puser (pusar) Pulau Jawa. Maka iut, ada yang mengaitkan peningkatan aktivitas gunung dengan keadaan negara, terutama terkait panasnya suhu politik.

Sambil menyalakan rokok kemenyan, Mbah Samsuri mengingatkan situasi bisa berubah sewaktu-waktu. Namun dia percaya, 'sahabat-sahabat' spiritualnya pasti akan memberitahu terlebih dulu.

"Memang hawanya terasa berbeda. Mandi di Pancuran Telu dan Pancuran Tujuh sama saja. Sudah melepas pakaian, tapi tidak kuat waktu berendam," kata dia

Mbah Samsuri mengungkapkan aktivitas kali ini bukanlah yang terbesar. Dia percaya Slamet tidak akan meletus sedahsyat Merapi atau Kelud. Kenaikan aktivitas di kawah itu hanya sebatas 'batuk dan sendawa', masih sama dengan peristiwa tahun 1978, 1981, 1987, 2009 dan terakhir 2014 di mana Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sudah meningkatkan status Siaga hingga dua kali setelah sebelumnya sempat turun ke level Waspada.

"Bagi saya orang mau ngomong apapun tentang Gunung Slamet ya seperti ini. Tidak akan ada apa-apa, tidak akan runtuh. Tidak usah cemas, karena jika tak keluar apinya, malah nanti jadi meletus," ujarnya.

Dia percaya, Slamet adalah tempat tinggal leluhur orang Jawa, yakni mbah Renti, Atasangin, Tapakangin, Semput dan Brantayudha. Kelimanya dipercaya merupakan simbol lima unsur kehidupan seperti air, api, angin, tanah, dan kayu. Maka untuk menjaga hubungan antara manusia dengan gunung, dia selalu melakukan ritual tersendiri. Apalagi saat Slamet menujukkan aktivitasnya.

Juru kunci Gunung Slamet agak berbeda dengan gunung pada umumnya. Gunung ini dipercaya memiliki juru kunci lebih dari satu. Mereka tersebar di sekitar Gunung Slamet. Salah satunya Mbah Samsuri, meski pria tua tersebut selalu menampik.

(arb/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads