Pencuri, Pemerkosa, dan Penculik Anak Incar Korban Tsunami

Pencuri, Pemerkosa, dan Penculik Anak Incar Korban Tsunami

- detikNews
Selasa, 04 Jan 2005 08:55 WIB
Jakarta - Kejahatan memang tidak memandang tempat. Kawanan pencuri, pemerkosa, dan penculik anak mengincar para korban gempa dan tsunami yang selamat di tempat pengungsian, di rumah sakit, dan mengincar harta mereka di rumah yang ditinggalkan, termasuk rumah turis Eropa yang ikut jadi korban bencana.Menurut kantor berita Reuters, Selasa (4/1/2005), laporan dan peringatan datang berbagai penjuru seperti Inggris, Swedia, Sri Lanka, Thailand, dan Hongkong. Di Sri Lanka dilaporkan adanya penjahat yang memanfaatkan situasi chaos ini untuk memperkosa korban yang selamat, sedang di Eropa banyak rumah milik turis yang disatroni maling."Kami menerima laporan tentang kejahatan pemerkosaan, pemerkosaan secara berkelompok, serta pelecehan seksual terhadap wanita dan gadis-gadis dalam proses operasi penyelamatan yang tak terawasi dan di tempat penampungan sementara," demikian laporan sebuah organisasi perempuan di Sri Lanka.Sementara organisasi peringatan Save the Children memperingatkan bahaya yang mengancam anak-anak korban bencana, yaitu jadi objek eksploitasi seksual. "Dari pengalaman malapetaka sebelumnya anak-anak selalu jadi korban," kata Kepala Save the Children di Swedia, Charlotte Petri Gornitzka.Di Thailand dilaporkan terjadi aksi pencurian di peti besi bagasi dan hotel di seluruh pantai Khao Lak oleh pencuri yang menyamar sebagai polisi atau pekerja kemanusian. Juga terjadi penculikan seorang anak Swedia berusia 12 tahun yang orangtuanya jadi korban tsunami, dan Swedia telah mengirimkan tujuh orang polisinya untuk melakukan penyelidikan.Kecemasan atas aksi kejahatan yang memanfaatkan situasi chaos juga terjadi di Aceh, khususnya di Banda Aceh. Banyak warga yang mengungsi kini menghawatirkan adanya aksi pencurian, penjarahan dan kebakaran di rumah-rumah yang mereka tinggalkan. Yang juga menjadi keprihatinan dan kemarahan banyak kalangan adalah upaya sekelompok orang untuk mengambil anak-anak Aceh yang tidak jelas keberadaan orang tuanya. Dikhawatirkan anak-anak Aceh itu jatuh ke sindikat jual beli anak. Itu sebabnya kini muncul desakan agar pemerintah mendata anak-anak Aceh korban bencana dan mencegahnya agar tidak diambil orang yang tidak berhak. (gtp/)


Berita Terkait