Di dalam persidangan Akil Mochtar terungkap, peristiwa penyuapan bermula jauh-jauh hari dari proses persidangan di MK yang berlangsung pada pertengahan 2011. Yakni pada saat Anggota DPRD Tapteng Bachtiar Sibarani bertemu dengan Akil Mochtar di Rumah Akbar Tandjung beberapa saat sebelumnya.
Akil meminta nomor telepon Bachtiar. "Kalau saya telepon adinda, tolong diangkat," ujar Bachtiar menirukan pesan Akil, dalam kesaksiannya di persidangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akil minta uang Rp 3 miliar kepada Bonaran. Tapi Bachtiar takut untuk menyampaikan permintaan itu. "Kau tinggal bilang saja," pinta Akil kepada Bachtiar. Permintaan itu juga berulangkali diminta Akil.
Bachtiar juga mengaku sempat menunjukan langsung SMS Akil kepada Bonaran. Entah karena tidak mendapat respons dari Bonaran, Akil malah 'rela' menurunkan permintaannya. "Kalau enggak mau 3, 2 saja lah," kata Akil menirukan pesan Akil.
Dalam episode persidangan yang lain, saksi yang lain, Hetbin Pasaribu mengaku berulang kali diperintahkan Bonaran mengirim uang ke Bachtiar Sibarani. "Bonaran telepon saya, disuruh temani ajudannya, Daniel Situmeang ke BNI Rawamangun ambil uang Rp 1 miliar," kata kata Hetbin Pasaribu. Uang itu kemudian diserahkan kepada Bakhtiar Sibarani oleh Daniel.
Beberapa waktu kemudian, lagi-lagi Hetbin mengantar Daniel mengambil uang di Azwar Pasaribu Rp 1 miliar. Uang tersebut diantar lagi untuk Bakhtiar di Depok.
Namun keesokan harinya, Bakhtiar menelepon karena uang yang diterimanya kemarin ternyata kurang Rp 100 juta. Bakhtiar pun meminta Hetbin mengirim uang itu ke CV Ratu Samagat dengan berita slip setoran 'angkutan batubara'.
Meski Akil dan Bonaran tidak mengakui adanya praktek suap menyuap, majelis hakim yang mengadili Akil pun menjadikan fakta persidangan di atas sebagai dasar untuk menunjang vonis untuk Akil. Hakim menyatakan Akil terbukti menerima Rp 1,8 miliar dari Bonaran. Uang itu diberikan agar MK menolak permohonan keberatan hasil KPU. Sejatinya, KPU Tapanuli Tengah sudah menetapkan Bonaran Situmeang-Sukran Jamilan Tanjung sebagai pemenang pilkada. Namun calon yang kalah mengajukan keberatan ke MK.
Disebutkan, Akil melalui Bakhtiar Ahmad Sibarani meminta uang kepada Bonaran Rp 3 miliar. Namun entah mengapa, belakangan diketahui Bonaran menyerahkan hanya Rp 2 miliar untuk Akil melalui rekannya. Ternyata, jumlah uang yang disetor ke rekening CV Ratu Samagat Bank Mandiri KC Pontianak kembali berkurang tinggal Rp 1,8 miliar.
(fjp/rmd)











































