Untuk itulah BMKG bekerjasama dengan kementerian dan lembaga terkait membentuk portal sistem data dan informasi maritim nasional berupa Marine Integrated Data System (Midas). Kementerian dan lembaga yang tergabung dalam kerjasama ini antara lain BPPT, BIG, LAPAN, KKP, Dishidros serta beberapa perguruan tinggi seperti ITB, IPB dan ITS. Kerjasama juga dijalin dengan pihak asing dari Amerika, NOAA.
"Setiap lembaga bisa meletakkan data di portal ini sehingga publik lebih mudah mengakses informasi lengkap dan akurat," kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya di kantor BMKG, Jl Angkasa, Jakarta Pusat, Rabu (20/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, menurutnya tahun 2017-2018, dunia akan meluncurkan program Year of Maritime Continent (YMC). Negara-negara yang terlibat dalam program ini adalah Jepang, Amerika, Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Inggris, Italia, India, Tiongkok, Filipina, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Singapura dan Vietnam.
"Indonesia harus terlibat dan mengambil manfaat dari kegiatan tersebut. Sebab peran Indonesia yang berada di antara 2 samudera terbesar dunia, sangat penting dalam menentukan iklim global," tuturnya.
Sementara itu, menurut Kepala BPPT Survei Kelautan, Wahyu W Pandoe, pengetahuan SDM Indonesia mengenai kelautan masih sangat minim. Padahal pengaruh laut dalam kehidupan masyarakat Indonesia sangat besar.
"Seperti nelayan. Mereka itu tidak mencari ikan, tapi menangkap ikan. Oleh karena itu informasi cuaca dan segala kondisi maritim kita sangat penting untuk publik," ujarnya.
(kff/ndr)











































