"Kami targetkan pertengahan Desember makam tersebut dipindahkan. Sebab, anggaran yang diajukan dalam APBDP sebesar Rp 5 Miliar belum diketahui kapan akan dicairkan," ujar Kasie Angkutan Pemakaman dan Pemulasaran Jenazah Sudin Pemakaman Jakarta Barat, Nasrun Lubis kepada wartawan, Rabu (20/8/2014).
Nasrun menjelaskan, kembalinya banjir yang terjadi di areal pemakaman Kapuk Teko tersebut bukan karena pihak Sudin pemakaman lambat dan kurang kordinasi. Sebab, saat kering pada Mei 2014 lalu, pihaknya tengah melakukan pendataan dan membuka pendaftaran bagi ahli waris yang mengenali makam untuk dipindahkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dibilang cuma-cuma tidak juga, sebab saat kering kemarin kami pastikan jika makam itu masih ada dan harus dipindahkan. Namun karena anggaranya belum ada ya kami terpaksa harus menunggu. Kami kan bukan seperti Sudin PU yang memiliki dana tanggap darurat," tambahnya lagi.
Padahal sebelumnya, Wakil Wali Kota Jakarta Barat, M Yuliadi menargetkan akan memindahkan seluruh makam di kawasan tersebut pada bulan Agustus. "Jadi paling lambat bulan Agustus. Sebab, kalau Oktober sudah masuk musim hujan nanti banjir lagi," ujarnya saat memantau Kampung Apung, Jumat (23/5/2014).
April hingga Mei 2014 lalu, Suku Dinas PU Air Jakarta Barat telah membersihkan sampah dan melakukan pengeringan di wilayah yang merendam 200 rumah dan 3.810 makam di Rw 01 sekitar 2 Hektar dengan anggaran swakelola sekitar Rp 500 juta. Namun, setelah kering dan 3.810 makam terlihat, Suku Dinas Pemakaman tidak segera memindahkan dengan alasan belum ada anggaran.
Sehingga, sejak Juni hingga kemarin, berdasarkan pantauan, Kampung yang terendam sejak 24 tahun lalu dan sempat kering pada Mei lalu, kembali terendam dan ditumbuhi tanaman eceng gondok.
"Seharusnya kalau saat kering langsung dipindahkan tidak akan terjadi seperti itu," kata Kasie Perencanaan Sudin PU Air Jakarta Barat, Santo dihubungi terpisah.
(spt/ahy)











































