DetikNews
Senin 18 Agustus 2014, 19:29 WIB

Anak Buah Nazar Sebut Ada Duit US$ 25 Ribu untuk Fahri Hamzah

- detikNews
Anak Buah Nazar Sebut Ada Duit US$ 25 Ribu untuk Fahri Hamzah
Jakarta -

Satu lagi nama penerima duit Nazaruddin disebut di persidangan Anas Urbaningrum. Kali ini nama Fahri Hamzah yang disebut mantan Wakil Direktur Keuangan Grup Permai, Yulianis.

Dalam persidangan, pengacara Anas, Handika Honggowongso, menanyakan keterangan Yulianis saat diperiksa KPK mengenai inisial FAH dalam dokumen Grup Permai. Tercatat dalam dokumen, duit diambil pada 13 Oktober.

"Jadi penyidik menanya sama saya dalam dokumen itu ada nama FAH. Kejadiannya waktu itu adalah saya dipanggil Pak Nazar ke lantai 7 di Tower Permai di Mampang. Saya dipanggil sama Pak Nazar disuruh bawa uang US$ 25 ribu. Setelah sampai di atas itu ada Pak Fahri Hamzah. Dulu saya tidak tahu dia itu siapa. Tapi setelah melihat di televisi saya tahu itu Pak Fahri yang dari PKS," ujar Yulianis dalam sidang lanjutan Anas di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kuningan, Jaksel, Senin (18/8/2014).

Saat itu Fahri sebut Yulianis tidak berbicara apa pun. "Saya memberi amplop itu ke Pak Fahri itu tidak langsung ke tangan Pak Fahri tapi ke meja di depan. Saya minta Pak Fahri tanda tangan dalam kas keluarnya. Terus Pak Fahri cuma senyum aja. Katanya Pak Nazar, sudah sini saya yang tanda tangan. Sama Pak Nazar itu ditanda tangan cuma dicoret-coret aja," sambung Yulianis.

Saat itu Yulianis bertanya ke Nazar, soal hubungan pengeluaran duit dengan proyek yang digarap Grup Permai. "Saya tanya ke Pak Nazar itu untuk proyek apa? Catet aja itu DP pembelian mobil. Tidak terkait dengan proyek," sebut Yulianis menceritakan perbincangannya dengan Nazar soal pengeluaran duit.

Yulianis saat persidangan sesi I, membeberkan adanya sejumlah pengeluaran dari kas perusahaan. Duit disetor ke sejumlah kementerian termasuk DPR.

Penjelasan ini bermula ketika Anas Urbaningrum menanyakan ada tidaknya duit Grup Permai yang dikeluarkan ke dirinya pada periode 2010. Tapi Yulianis yang mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran Grup Permai menyebut tidak ada.

"Tidak ada sih, Pak," jawab Yulianis.

Setelah itu Anas meminta Yulianis mengecek catatan kas Grup Permai di persidangan. Atas seizin majelis hakim, Yulianis menyebut sejumlah pengeluaran.

"Ada untuk tanggal 25 Mei untuk support Dephub Rp 2,8 miliar. Kalau kita nyebutnya Pak Gambir, support untuk Gambir US$ 500 ribu. Ada support untuk Kejati Meragawa Rp 200 juta," sebut Yulianis.

Pada 9 Juni 2010, ada lagi pengeluaran untuk 'Gambir' sebesar US$ 500 ribu. "Gambir, maksudnya?" tanya hakim Haswandi.

"Pak Gambir sebutan kita, tapi untuk Dephub," jawab Yulianis.

Anas juga bertanya alasan pemakaian nama Gambir. "Kantornya di Gambir," kata Yulianis.

Setelah itu berturut-turut disebutkan pengeluaran untuk Komisi III DPR pada 29 Juni 2010 sebesar Rp 1,5 miliar. Kemudian Rp 100 juta untuk LSM yang tidak disebutkan namanya. Duit Rp 4 miliar untuk Komisi X DPR. "Itu Mba Angie dan Pak Wayan," lanjut Yulianis.

Setelah itu ada untuk BPK Rp 100 juta, Kemenakertrans Rp 800 juta. "Ada ke Pak Tamsil 11 Oktober US$ 50 ribu, US$ 50 ribu," sebut Yulianis.

Ada juga untuk Depkes sebanyak US$ 100 ribu pada 11 Oktober. "Tanggal 14 Oktober itu untuk Mba Angie dan Wayan US$ 300 ribu dan US$ 200 ribu," sambung Yulianis.

"Mba Angie tanggal 17 Oktober US$ 400 ribu," katanya menyebut pengeluaran lain dari kas Grup Permai.


(fdn/jor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed