Warga Surabaya Takut 'Kotak Jalanan' Tak Sampai ke Aceh
Senin, 03 Jan 2005 17:21 WIB
Surabaya -
Maraknya aktivis mahasiswa dan masyarakat yang menggalang dana bantuan bagi korban gempa bumi dan tsunami Aceh, dikecam berbagai lapisan masyarakat Surabaya. Hal ini dikarenakan pencari sumbangan itu dianggap mengganggu kelancaran lalu lintas.Seperti di daerah lain, musibah Aceh mendorong mahasiswa, LSM maupun parpol di surabaya berduyun-duyun membuka posko dan mengumpulkan sumbangan barang maupun uang dari masyarakat pengguna jalan. Dengan mengenakan jaket almameter kampus atau atribut LSM, pencari sumbangan itu berdiri di tepi maupun tengah jalan sambil membawa berbagai kardus yang ditempeli tulisan "Bantuan Peduli Gempa Aceh".Dari pantauan detikcom di lapangan, sedikitnya 7 ruas jalan di Surabaya dipenuhi mahasiswa yang membawa kardus kosong yang ditempeli tulisan "Bantuan Peduli Aceh" ini meminta sumbangan dengan cara berdiri di tengah-tengah jalan. Hal ini tentu saja menyumbang kemacetan.Salah satu jalan yang biasanya macet dan kini kian macet saja adalah Jl Ahmad Yani. Belasan mahasiswa Universitas Bhayangkara sambil mengibarkan bendera setengah tiang, berdiri di tengah jalan sambil menyodorkan kardus ke mobil-mobil yang lewat."Seharusnya para mahasiswa tidak perlu mencari dana sumbangan dengan berdiri ditengah jalan. Karena di samping mengganggu lalu lintas juga bisa membahayakan diri mereka," ungkap Wahyuni (29) pada detikcom. Karyawati bank swasta ini menyatakan, dia sebenarnya tidak keberatan ditarik sumbangan. "Namun saya kurang suka dengan caranya," kilahnya.Hal senada disampaikan Suprapto. Menurutnya, alangkah baiknya para mahasiswa dalam mengumpulkan sumbangan beraktivitas di kampus masing-masing. "Selain agar tidak mengganggu lalu lintas, keberadaan mereka juga tidak akan dicurigai oleh banyak pihak. Soalnya kita takut para mahasiswa yang berdiri di tepi maupun tengah jalan hanyalah mahasiswa yang tidak bertanggung jawab," kata Suprapto, warga Kendang Sari.Hal senada juga diungkapkan oleh belasan para pendengar salah satu radio swasta di Surabaya. Rata-rata mereka kecewa dan bertanya-tanya, apakah yang meminta sumbangan di berbagai jalan di Surabaya itu murni guna membantu Aceh atau hanya digunakan sebagai kepentingan pribadi.Untuk itu mereka berharap supaya pemerintah secepatnya membentuk suatu lembaga yang bisa mengkoordinir para mahasiswa, LSM maupun masyarakat lainnya agar nantinya sumbangan yang dikumpulkan bisa dipantau.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































