Dari segi fungsi, Alun-alun yang berlokasi di depan Masjid Raya Jabar ini terdiri dari air mancur di bagian tengah taman dan terdapat kursi-kursi berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari semen.
Air mancur tidak terawat. Sementara kursi-kursi kerap dipakai pengemis dan anak jalanan untuk tidur. Selain itu, kursi-kursi itu kerap dipakai tempat berjualan kopi oleh pedagang asongan. Sementara sebagian lahan kosong lainnya malah dipakai oleh Pedagang Kaki Lima (PKL).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti di tengahnya ada lapangan kosong, sehingga bisa dipakai untuk bikin acara semacam festival seperti dulu lagi," ujar Emil, sapaan akrab Ridwan kepada detikcom, Jumat (15/8/2014).
Alun-alun lama juga kurang memiliki identitas yang cukup kuat. Tidak ada papan atau plang yang menyebut lokasi tersebut adalah Alun-alun Bandung. Selain itu, tidak ada pintu gerbang khusus di sekitar area taman.
Sementara dilihat dari desain baru taman Alun-alun yang dikerjakan oleh arsitek Indonesia yang bekerja di Singapura, konsepnya lebih memperbanyak ruang terbuka. Identitas taman pun ditonjolkan dengan memasang huruf yang bertuliskan Alun-alun Bandung. Di sisi kanan dan kiri taman juga terdapat gapura khusus yang didesain ala Timur Tengah.
Menurut Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung, Arief Prasetya, taman Alun-alun yang baru konsepnya Timur Tengan namun tidak menghilangkan unsur kesundaaan.
"Nuansa Timur Tengahnya dituangkan dalam tanaman khas gurun pasir dan desain-desain ornamen yang bernuansa islami. Tapi kita juga menanam bunga-bunga khas kota Bandung yang beraneka warna," terang Arief.
(avi/try)










































