"Sempitnya ruang gerak fiskal-moneter dalam RAPBN 2015 menjadi kendala utama pemerintahan baru," kata Nusyirwan kepada wartawan di Jakarta, Jumat (15/8/2014).
Menurutnya, meskipun penyusunan RAPBN 2015 masih bersifat baseline, tetap saja pemerintahan baru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan program-program utamanya bila rancangan itu tetap diteruskan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah problem yang dihibahkan kepada Pemerintahan baru nanti," imbuhnya.
Untuk itu, dia mengusulkan agar RAPBN 2015 diperbaiki dengan melaksanakan penajaman atau prioritas program. Selain itu, harus dilakukan upaya-upaya mengurangi hambatan koordinasi dan lamanya pengambilan keputusan.
"Dengan begitu, akan diperoleh efisiensi biaya dan waktu yang akhirnya menghasilkan program yang berkualitas," kata Nusyirwan yang juga duduk di Komisi V DPR itu.
Secara garis besar, Presiden SBY sudah menyampaikan postur RAPBN 2015 memasukkan total pendapatan negara mencapai Rp 1.762,3 triliun. Itu terdiri atas penerimaan perpajakan sebesar Rp 1.370,8 triliun, PNBP sebesar Rp 388 triliun, dan penerimaan hibah Rp 3,4 triliun.
Sementara total belanja negara mencapai Rp 2.019,9 triliun. Itu terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.379,9 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp 640 triliun.
Defisit anggaran dalam RAPBN 2015 adalah sebesar Rp 257,6 triliun atau 2,32 persen terhadap PDB, turun dari defisit APBNP 2014 sebesar 2,4 persen terhadap PDB.
(hat/trq)











































