Patung Diponegoro di Monas Juga Batal Diresmikan Bung Karno

- detikNews
Jumat, 15 Agu 2014 12:23 WIB
(Foto: Nur Khaffifah/detikcom)
Jakarta - Patung Dirgantara atau yang lebih dikenal dengan nama Patung Pancoran dan Patung Diponegoro di Monas sedang mendapatkan perawatan, disiram pakai jeruk nipis dan disikat. Selain itu, keduanya sama-sama batal diresmikan Bung Karno.

Sejarah Patung Diponegoro disebutkan dalam dalam dokumen 'Tugu Nasional: Laporan Pembangunan' yang diletakkan di Taman Monas bagian utara. Patung itu disebutkan sumbangan dari seorang pengusaha keturunan Italia yang sangat cinta dan kagum akan Indonesia, Mario Pitto. Pitto ingin sekali menghadiahkan sesuatu pada bangsa Indonesia sebagai bentuk respeknya akan negara ini.

Pitto mengutarakan keinginannya itu kepada Duta Besar Indonesia untuk Italia saat itu, Teuku Mohamad Hadi Tayeb tahun 1963. Hadi Tayeb mengusulkan untuk membuat patung dari pahlawan Indonesia, dipilihlah Pangeran Diponegoro. Pitto menunjuk pemahat patung dari Italia, Prof Cobertaldo, yang didatangkan ke Indonesia untuk mempelajari lukisan hingga sejarah Diponegoro.

Patung itu dibuat dari perunggu dengan dasar beton. Awalnya, patung ini direncanakan dilapis marmer, namun tak kesampaian. Patung itu akhirnya selesai dan dipasang atas arahan sang seniman, Cobertaldo, pada Juli 1965 dengan maksud untuk diresmikan 17 Agustus 1965 saat HUT kemerdekaan oleh Presiden Sukarno. Karena kondisi politik tidak menentu dan tidak kondusif, rencana itu batal.

Hingga kini, patung Pangeran Diponegoro yang menunggang kuda itu tak pernah diresmikan. Pitto, sang penderma, tak pernah melihat posisi patung yang dihibahkannya hingga meninggal karena penyakit tahun 1968.

Nasib Patung Diponegoro persis dengan Patung Pancoran yang berada di tengah perempatan jalan yang sibuk di Jaksel. "Jadi patung Dirgantara itu dibuat di masa peralihan orde lama ke orde baru, dan selesai di masa orde baru. Saat selesai sama sekali tak pernah diresmikan, jadi ya selesai begitu saja. Tak pernah ada selamatan atau seremoni," jelas sejarawan LIPI Asvi Warman saat berbincang dengan detikcom, Jumat (15/8/2014).

Asvi menuturkan, patung pemuda bersemangat dengan berpose menunjuk itu dibuat pada 1965 dan selesai sekitar 1967-1970. Edhi Sunarso membangun patung itu atas permintaan Soekarno. Patung dibangun dari perunggu dan melibatkan pemahat Yogyakarta. Tiang penyangga patung tingginya 27 meter dan tinggi patung dari perunggu 11 meter.

Proses konservasi ini memakan waktu selama dua bulan. Patung Dirgantara (Pancoran) akan dilakukan pada 11 Agustus hingga 19 September 2014. Sedangkan patung Diponegoro yang berada di Monas akan dilakukan pada 17 September hingga 2 Oktober 2014. Proses konservasi kedua patung ini memakan biaya Rp 566 juta.

(nwk/nrl)