Tujuan Sama Cara Berbeda

Geliat Posko Bantuan Kemanusiaan (3)

Tujuan Sama Cara Berbeda

- detikNews
Senin, 03 Jan 2005 14:58 WIB
Jakarta - Cara dan target operasi posko bantuan yang didirikan suatu kelompok masyarakat agaknya terkait dengan karakter masing-masing kelompok tersebut. Untuk kelompok organisasi kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama (NU), mereka memilih memanfaatkan jaringan organisasi atau anggota mereka di daerah."Jadi PBNU sudah menginstruksikan wilayah untuk melakukan hal yang sama. Misalnya PWNU Jawa Timur, mereka sudah mengumpulkan sekitar 8 truk bantuan dan sebagian sudah diberangkatkan Satkorlak setempat. Jadi kita memanfaatkan jaringan-jaringan yang ada," kata Juru Bicara Posko Kemanusiaan PBNU, Mabroer MS.PBNU juga menyediakan sendiri dana khusus untuk pendistribusian bantuan yang mereka terima kepada para korban. Langkah ini diambil karena PBNU tidak ingin mengurangi hak para korban. Dana distribusi itu diambil dari iuran yang dilakukan para pengurus NU."Sebenarnya sebagai amil (panitia) kan kita bisa memanfaatkan dana bantuan tersebut, tapi kita tidak demikian. Dan untuk saat ini semua PWNU sudah mendirikan posko," tutur Mabroer.Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga memiliki cara sendiri dalam menggalang dana. Selain mengimbau masyarakat luas, PKS juga menekankan solidaritas sesama kader partai. Misalnya mereka meminta gaji para pejabat partai dipotong hingga 50 persen.Posko bantuan PKS tidak hanya mengumpulkan dana dan barang dari masyarakat, mereka juga memobilisasi relawan untuk diterjunkan ke Aceh. Para relawan yang dikirim ini tergabung dalam Komite Kemanusiaan untuk Aceh. Sebelum diberangkatkan, para relawan ini terlebih dahulu diberi bekal dengan berbagai pengetahuan rescue."Kita menerima relawan sesuai dengan skillnya. Untuk orang-orang yang belum terbiasa kita berikan pelatihan, peta lapangan dan perbekalan yang harus dimiliki, seperti masker, sarung tangan, sepatu boot serta jas hujan," ujar Bendahara PKS, Lutfi Ishaq.Posko bantuan juga didirikan oleh sejumlah kalangan profesional dan media massa. Radio Elshinta misalnya, program Elshinta Peduli berhasil menyedot berbagai bantuan kemanusiaan dari masyarakat. Bantuan-bantuan tersebut sebagian sudah dikirimkan ke Aceh.Elshinta menegaskan, posko bantuan kemanusiaan yang didirikan mereka tidak dadakan. Kiprah mereka dalam soal pemberian bantuan kemanusiaan sudah dilakukan sejak tahun 1998 lewat program Elshinta Peduli. Jadi tidak hanya di Aceh, sebelumnya juga dilakukan terhadap para korban bencana gempa di Alor dan Nabire."Seluruh dana operasional ditanggung oleh Elshinta. Misalnya ketika kita membeli bahan bangunan, itu ongkos kirim ditanggung sendiri oleh Elshinta," kata Penanggung Jawab Elshinta Peduli, Edi Harsono.Pendirian posko bantuan kemanusiaan juga dilakukan sejumlah stasiun televisi, salah satunya Metro TV. Metro TV menggalang bantuan dari masyarakat lewat program dompet kemanusiaan Indonesia menangis. Selain bantuan uang dan barang, mereka juga mengirimkan sejumlah relawan.Metro TV menegaskan, pendirian posko ini dilakukan semata-mata melihat bencana yang terjadi begitu besar. Di sisi lain, animo masyarakat yang berniat menyumbang lewat kelompok media group ini juga tidak bisa dibilang sedikit."Apa yang dilakukan Dompet Kemanusiaan ini terdiri dari ada 2 fase. Fase pertama task force, untuk 2 sampai 3 minggu pertama mengirimkan bahan-bahan bantuan makanan, pakaian, minuman, obat-obatan dan tenaga medis. Fase selanjutnya adalah rehabilitasi," kata Public Relation and Publicity Manager Metro TV, Henny Puspitasari.Meski telah melakukan berbagai perencanaan, bukan berarti kinerja posko-posko tersebut tanpa hambatan. Mereka mengakui, ada sejumlah kendala yang harus dihadapi. Cara kerja yang berbeda antara masing-masing posko ini menimbulkan masalah sendiri dalam koordinasi.Belum lagi soal angkutan udara yang semula diandalkan bisa mempercepat sampainya bantuan di lokasi bencana. Padatnya penerbangan membuat banyak bantuan tersebut tidak terangkut. Akibatnya, berbagai bantuan nampak menggunung di sejumlah posko. Kondisi ini tidak jarang membuat posko-posko tersebut menyetop penerimaan bantuan dari masyarakat. Padahal di sisi lain, masyarakat Aceh masih sangat kekurangan berbagai kebutuhan."Kita sangat kecewa dengan pemerintah yang tidak bisa menyediakan angkutan. Karena itu kita terpaksa menggunakan jalur darat. Jika tidak, bantuan-bantuan ini tidak akan sampai," kata Mustawalad, kordinator bantuan kemanusiaan Kontras.Kendala lain, adalah sulitnya menembus suatu lokasi bencana. Daerah bencana paling sulit ditembus yang selama ini diberitakan antara lain Kota Meulaboh. Kota yang terletak di pesisir barat pantai Aceh ini nyaris tidak berbekas. Bantuan-bantuan yang dikirimkan hanya bisa dilakukan lewat udara. Bantuan-bantuan tersebut dijatuhkan dari pesawat.Seorang anggota tim survei dari Jaringan Relawan Kemanusiaan Jakarta, Savic Aleha, mengaku baru bisa menembus kota tersebut pada Minggu (2/1/2005) dini hari. Savic tiba di Meulaboh dengan menggunakan mobil selama 4,5 jam dari kota Tapak Tuan."Kondisi kota Meulaboh benar-benar hancur, kota ini seperti kota mati. Evakuasi jenazah korban hanya dilakukan segelintir aparat TNI/Polri dibantu warga setempat dan beberapa petugas dari PMI, dengan alat-alat seadanya. Wilayah pantai terlihat lapang, seolah-olah tidak pernah ada bangunan di sana," ungkap Savic.Kondisi ini semakin diperburuk dengan minimnya pasokan BBM di Meulaboh. Hal ini menyebabkan mobilisasi kendaraan di kota tersebut juga semakin terbatas. (diks/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads