Adopsi Anak Aceh

Kolom

Adopsi Anak Aceh

- detikNews
Senin, 03 Jan 2005 13:26 WIB
Jakarta - Bencana Aceh telah menceraiberaikan ribuan keluarga yang ada di Aceh. Bayangkan, ada lebih dari 80 ribu jiwa melayang. Tak sedikit orang tua yang kehilangan suami, istri dan juga anak-anaknya. Dan juga tak sedikit anak-anak yang dipaksa oleh keadaan, mendadak harus menjadi yatim piatu.Anak-anak adalah masa depan bangsa. Pemerintah pun sadar akan hal itu, karenanya mereka memberi perhatian lebih untuk masa depan anak-anak Aceh. Namun apa yang tampak dalam sepekan terakhir ini adalah aroma kebingungan penanganan pemerintah.Pada statemen awalnya, Presiden SBY meminta agar para menteri dan juga orang-orang mampu di negeri ini, terketuk hatinya untuk menjadi bapak asuh bagi anak-anak korban tsunami di Aceh. Peluang adopsi pun terbuka asalkan memenuhi prosedur dan persyaratan.Namun isu yang berkembang di luar ternyata membuat pemerintah tiba-tiba bersikap defensif. Isu bahwa imbas musibah ternyata dijadikan lahan penjualan anak-anak korban gempa memaksa Mensos Bachtiar Chamsyah menerapkan kebijakan yang cukup protektif.Mensos menyatakan hanya orang Aceh yang bisa mengadopsi anak-anak korban gempa di Aceh. Warga yang kebetulan dari suku lainnya, maaf saja, belum boleh. Untuk mendapatkan izin adopsi, orang Aceh sendiri tak gampang. Harus sepersetujuan mensos atau dinas sosial setempat.Besoknya lagi, aroma diskoordinasi tampak nyata. SBY membantah pemerintah memberi kesempatan bagi pengadopsian anak-anak korban gempa di Aceh. Katanya, tak ada policy untuk itu. Yang ada, pemerintah akan mengurus dan memberi perhatian khusus pada anak-anak korban gempa tersebut.Well, tentunya sikap pemerintah tersebut haruslah kita hormati. Adalah kewajiban pemerintah untuk melindungi warga negaranya. Undang-undang pun mengatur demikian. Fakir miskin dan anak-anak terlantar, tentunya termasuk para yatim piatu korban gempa Aceh, punya hak untuk diurus negara.Namun tentunya, perhatian tulus dari masyarakat tak bisa diabaikan begitu saja. Bencana Aceh telah menguras emosi, rasa simpati, rasa berduka seluruh komponen bangsa ini. Dari ujung Sumatera itu, rasa kemanusiaan dan kebersamaan yang sempat menghilang, kembali muncul di bumi pertiwi. Banyak di antara mereka yang tersentuh hatinya, dan kebetulan mampu pun berniat berbuat lebih dengan. Hal yang seperti ini tentunya harus dihargai. Bolehlah pemerintah menerapkan aturan ketat, namun bukan mempersulit warga yang tulus berniat mengadopsi anak-anak korban gempa Aceh.Toh yang menjalani hidup adalah anak-anak itu sendiri. Mereka lah pemilik masa depan mereka sendiri. Tegakah kita membiarkan masa depannya suram? Sementara kemampuan pembiayaan negara, tahu sama tahu lah, tak bisa menjamin mereka memiliki masa depan yang lebih cerah.Ingatlah, duka yang melanda Aceh, sudah pula menjadi duka bangsa ini.Teguh Budi Santoso (diks/)



Berita Terkait