ADVERTISEMENT

Lebih 1/2 Populasi Meulaboh Meninggal & Hilang

- detikNews
Senin, 03 Jan 2005 08:20 WIB
Aceh - Dari hampir 50 ribu jiwa penduduk Aceh, hanya sekitar 23 ribu orang yang terdata selamat dari musibah gempa dan tsunami di Aceh. Lebih dari separuh populasi kota tepi pantai itu meninggal dan masih hilang, sementara pendistribusian bantuan dan evakuasi terhambat karena tidak adanya BBM.Menurut Safik, salah seorang anggota Jaringan Relawan Kemanusian yang berhasil masuk ke Meulaboh, sekitar radius 300 km dari pantai tidak ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan. Hanya Meulaboh wilayah kota yang baru terjangkau, sedangkan desa-desa belum tersentuh baik oleh pemerintah maupun relawan."Data Korban belum pasti, yang terdata di kamp-kamp pengungsi sekitar 23 ribu orang. Banyak juga yang tidak terdata yang tinggal di rumah-rumah penduduk yang mereka kenal maupun tidak," kata Safik kepada detikcom per telepon, Senin (3/1/2005) pagi."Untuk wilayah Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat Daya, praktis desa-desa belum tersentuh. Desa Batu Putih, Ujung Karang, Kampung Pasir dan Kampung Belakan tidak ada tanda-tanda kehidupan, semua habis. Kantor DPRD dan Korem tenggelan. Bahkan pemukiman yang sebelumnya padat seperti komplek Polri kini hilang," tutur Safik,Safik menerangkan, saat ini wilayah desa-desa dan kampung-kampung di Meulaboh masih belum bisa dilewati. Selain karena medan yang sulit dan daerah yang terpencil dan terpisah-pisah dengan jarak yang cukup berjauhan, tidak adanya persediaan BBM juga menjadi kendala."Belum ada evakuasi sama sekali untuk desa dan daerah pinggiran Meulaboh, khususnya yang berbatasan dengan hutan, sama sekali tidak ada pertolongan. Aparat juga tidak tahu ada dimana para penduduk disana," jelas Safik.Saat ini, Kota Meulaboh sendiri sudah bisa ditembus melalui jalur darat. Para relawan yang ingin menuju Meulaboh dapat melewati Kota Bireun, Takengon, Betung dan Jeram.BBM Tidak Tersedia Hambat Distribusi BantuanSementara itu, akibat ketiadaan BMM itu, pendistribusian bantuan dan evakuasi korban di Meulaboh mengalami kesulitan. "BBM menjadi permasalahan krusial di saat ini. Karena tidak ada kendaraan, kita tidak bisa berkutik, tidak bisa mengevakuasi mayat dan tidak bisa menyalurkan bantuan," kata dia.Menurut Safik, saat ini di Meulaboh, mayat-mayat masih banyak yang mengapung dan bergelimpangan di jalan. Korban yang tertimbun reruntuhan bangunan juga tidak bisa dievakuasi tanpa alat berat."Pengungsi sekarang semuanya kelaparan. Sampai hari ini bantuan untuk pengungsi baru yang ada di kamp, yang di luar kamp otomatis tidak mendapat bantuan. Beras, makanan bayi, pembalut dan obat-obatan sangat dibutuhkan, semua kurang, tapi jangan indomi. Paling vital adalah BBM dan pakaian," demikian Safik.

(fab/)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT