Macet di Puncak di akhir pekan sudah terjadi bertahun-tahun. Sejumlah solusi ditawarkan, dan salah satunya yakni membuat area parkir penampungan. Bisa di Sentul atau Ciawi lalu masyarakat diantar dengan angkutan umum yang nyaman. Tapi bagaimana dengan masyarakat yang terbiasa dan ingin tetap bawa mobil?
"Untuk mengurai kemacetan, pemerintah bisa kerjasama dengan swasta membangun rumah parkir atau area parkir yang cukup luas untuk parkir "jam-jaman" dan parkir inap di daerah Sentul. Dari area parkir itu disediakan "shuttle bus" dalam jumlah yang banyak untuk wisatawan yang mau ke Puncak bahkan kalau perlu bisa menjangkau sampai Kota Cianjur," jelas pembaca detikcom, Bambang P Sumo dalam surat elektroniknya, Rabu (13/8/2014).
Ide Bambang ini sejalan dengan yang disampaikan Hari Jatinika. Yang mengusulkan kalau Puncak hanya bisa dilalui kendaraan penduduk lokal di akhir pekan, atau transportasi umum. Kendaraan lain hanya bisa sampai Gadog atau Ciawi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedang pembaca lainnya, Okes mengusulkan membangun kereta gantung dengan 'halte' di sejumlah titik di tempat wisata.
"Saya punya usul untuk kemacetan Puncak, yaitu membangun kereta gantung dua jalur menuju titik-titik wisata di Puncak. Kereta gantung di samping terlihat indah dan unik tapi terhindar kemacetan. Orang-orang tahu kalau kereta gantung pasti ada hubungannya dengan wisata. Pembangunan kereta gantung bisa di bangun dari mana, misal dari Bogor ke Puncak, di Bogor bisa dibuat tempat perparkiran khusus dan sewa parkir mobil yang luas, dan di situ sudah dibangun kereta wisata Jakarta-Bogor Puncak. Jadi orang yg mau wisata ke Puncak bisa milih, mau pergi dengan mobil pribadi ke tempat parkir yang padat atau ke tempat wisata dengan menggunakan kereta gantung dua jalur," jelas Okes.
Cukup menarik ide yang disampaikan. Tapi ya itu tadi kendalanya, apa mau orang berpindah ke angkutan umum? Bagaimana dengan masyarakat yang terbiasa memakai mobil atau vila miliknya jauh masuk ke dalam? Cukup pelik memang mengatasi macet di Puncak yang hanya satu jalur ini. Apalagi Jakarta?
(bar/ndr)











































