Pelaksana Tugas Kepala UP Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) DKI Eni Prihantini mengatakan, keberadaan kedua patung tersebut di ruang publik terbuka secara langsung, membuat adanya pengaruh berbagai faktor lingkungan yang fluktuatif dan terpolusi oleh zat-zat polutan yang bersifat korosif. Sehingga mengancam kondisi keterawatannya.
"Kondisi patung menjadi kusam dan sangat kotor, dan permukaannya mengalami keausan, teroksidasi, terkorosi sebagai akibat adanya penggaraman, terutama yang disebabkan oleh garam khlorida. Selain itu, dudukan Patung Dirgantara yang terbuat dari cor beton bertulang juga banyak mengalami pertumbuhan ganggang berwarna kehitaman," jelas Eni di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (12/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk patung Dirgantara (Pancoran) belum pernah sama sekali dikonservasi secara total, tapi kalau Patung Dponeoro sudah pernah pada 2007 lalu," tambah Eni.
Nah, uniknya untuk membersihkan kedua patung ini, dilakukan secara alami dan manual. Yaitu mengunakan bahan jeruk nipis dan disikat.
"Kita gunakan bahan dan cara tradisional, misalnya untuk membersihkan oksidasi dengan mengunakan jeruk nipis, diikuti dengan penyikatan dan pembersihan semaksimal mungkin. Akan mengunakan sekitar 25-35 kilogram jeruk nipis," kata ahli konservasi Hebertus Sadirin.
Hebertus mengatakan, bahan yang terkandung dalam air jeruk nipis, yaitu asam nitrat yang dapat menghilangkan korosi. Pengunaan bahan kimia dibatasi apabila secara teknis memang diperlukan dan dibatasi pada dosis yang rendah.
"Kemudian diikuti dengan pembersihan dengan cara penyikatan dengan sikat halus secara hati-hati agar tidak merusak platina benda. Kemudian dibilas dengan aquadest atau air bebas mineral, hingga dengan alkohol teknis untuk membantu percepatan pengeringan. Setelah kering diolesi dengan bahan pelindung bahan resin untuk melindungi dari kelembapan udara," jelas Hebertus.
Prose konservasi ini memakan waktu selama dua bulan. Patung Dirgantara (Pancoran) akan dilakukan pada 11 Agustus hingga 19 September 2014. Sedangkan patung Diponegoro yang berada di Monas akan dilakukan pada 17 September hingga 2 Oktober 2014. Proses konservasi kedua patung ini memakan biaya Rp 566 juta.
(jor/ndr)










































