"Saya tadi pagi didatangi orang bernama Jemi Tuge atau Jemi Toge. Dia sebut dirinya ketua PPS di Pegangsaan Dua, Kelapa Gading," ujar Maqdir memulai ceritanya di dalam sidang, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (11/8/2014).
Maqdir beberapa kali mengulang atau meralat nama pria misterius itu. Ia menanyakan apakah anggota KPU Kota Jakarta Utara Prianda Anata mengenal sosok Jemi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tidak kenal," jawab Prianda.
"Ini dia memberikan sejumlah model A5," sambung Maqdir.
โDua lembar kertas A5 yang dipegang Maqdir menarik perhatian hakim konstitusi Hamdan Zoelva. Ketua MK itu kemudian meminta Maqdir menunjukkannya bersama Prianda untuk klarifikasi.
"Saya mau lihat dulu, pihak terkait boleh maju. Dimana bedanya?" tanya Hamdan.
"Ini yang mereka sebut asli dan ini yang mereka sebut palsu. Mulai dari logo dan tulisan beda," jawab Maqdir.
"Termohon (Prianda), mana yang asli?" tanya Hamdan.
"Saya belum pastikan mana yang asli. Kalau model, yang kami gunakan ada dua model, ini formatnya sama," jawab Prianda.
Hingga sidang diskors pada pukul 18.00 WIB hingga pukul 19.30 WIB nanti, sosok Jemi Toge atau Jemi Tuge atau Jemi Teguh itu masih tak terkonfirmasi. Saat meninggalkan ruang sidang, Maqdir pun langsung dikerubungi pekerja media yang menanyakan sosok itu.
"โOrang datang ke saya pagi tadi itu, A5 ini diberikan kepada para pemilih itu sehari sebelum pelaksanaan pilpres. Ketentuannya kan nggak boleh begitu. Saya bawa itu dua model, yang asli menurut teman-teman itu beda hanya yang luar negeri dan dalam negeri. Sementara ini tidak, bahkan yang tanda tangani ketua PPS," ujar Maqdir.
"Saya tanya kepada komisioner KPU Jakut, dia bilang dia tidak tahu, meskipun dia tahu siapa yang jadi ketua PPS itu. Informasi yang saya terima itu didapatkan sesudah pembukaan kotak suara. Namanya Jimi Tuegeh, saya kira itu Manado,โ" tutup Maqdir.
(vid/rmd)











































