"Menyikapi masalah ini, KBRI Tokyo telah menghubungi Kosaka Ishio (Koordinator Gunung Fuji yang terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Dunia) pada hari yang sama seperti di atas untuk mengetahui duduk persoalan secara jelas," demikian keterangan tertulis dari KBRI Tokyo yang diterima detikcom, Jumat (8/8/2014).
Kenyataan bahwa corat-coret pada batu di Gunung Fuji yang dianggap suci oleh masyarakat Jepang itu ada, memang benar demikian. Namun menurut Kosaka Ishio, pihaknya belum memiliki bukti bahwa corat-coret itu dilakukan oleh Warga Negara Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dubes RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, mengatakan bahwa pihaknya tidak ingin gegabah dan bertindak prematur atas persoalan itu.
"Jika akan mengeluarkan pernyataan maaf, pernyataan itu perlu dirancang dengan baik, termasuk pilihan untuk kata "maaf" itu sendiri. Tapi sebelum itu, duduk persoalannya harus diketahui secara jelas dulu," ujar Yusron.
Yusron mengaku pihaknya masih menunggu laporan lebih lanjut dari Pihak Pengelola Gunung Fuji. Setelah itu, dia akan mengambil langkah secara tepat dan proporsional pada saat yang juga tepat, jika hal itu ternyata nanti memang diperlukan.
Menurutnya, jika tidak ada bukti bahwa aksi corat-coret itu dilakukan oleh Warga Negara Indonesia, atau jika hal itu dilakukan oleh pihak ketiga. Jika begitu, maka permohonan maaf tentu akan menjadi tidak relevan.
(sip/nwk)











































