KBRI Tokyo: Coretan Ada, Tapi Belum Tentu Dilakukan oleh WNI

KBRI Tokyo: Coretan Ada, Tapi Belum Tentu Dilakukan oleh WNI

- detikNews
Jumat, 08 Agu 2014 21:52 WIB
KBRI Tokyo: Coretan Ada, Tapi Belum Tentu Dilakukan oleh WNI
Jakarta - Tulisan kata "Indonesia" dan tanda panah yang dicorat-coret di Gunung Fuji, Jepang ramai diberitakan di media Indonesia maupun Jepang. Untuk itu, KBRI telah menjalin komunikasi dengan pihak koordinator Gunung Fuji.

"Menyikapi masalah ini, KBRI Tokyo telah menghubungi Kosaka Ishio (Koordinator Gunung Fuji yang terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Dunia) pada hari yang sama seperti di atas untuk mengetahui duduk persoalan secara jelas," demikian keterangan tertulis dari KBRI Tokyo yang diterima detikcom, Jumat (8/8/2014).

Kenyataan bahwa corat-coret pada batu di Gunung Fuji yang dianggap suci oleh masyarakat Jepang itu ada, memang benar demikian. Namun menurut Kosaka Ishio, pihaknya belum memiliki bukti bahwa corat-coret itu dilakukan oleh Warga Negara Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kosaka Ishio mengaku masih memerlukan waktu untuk membuktikan hal itu. Atas dasar jawaban dari Kosaka Ishio tersebut, maka sejauh ini KBRI Tokyo belum mengambil sikap atau mengeluarkan pernyataan apa pun ke pihak Jepang terkait aksi vandalisme itu.

Dubes RI untuk Jepang, Yusron Ihza Mahendra, mengatakan bahwa pihaknya tidak ingin gegabah dan bertindak prematur atas persoalan itu.

"Jika akan mengeluarkan pernyataan maaf, pernyataan itu perlu dirancang dengan baik, termasuk pilihan untuk kata "maaf" itu sendiri. Tapi sebelum itu, duduk persoalannya harus diketahui secara jelas dulu," ujar Yusron.

Yusron mengaku pihaknya masih menunggu laporan lebih lanjut dari Pihak Pengelola Gunung Fuji. Setelah itu, dia akan mengambil langkah secara tepat dan proporsional pada saat yang juga tepat, jika hal itu ternyata nanti memang diperlukan.

Menurutnya, jika tidak ada bukti bahwa aksi corat-coret itu dilakukan oleh Warga Negara Indonesia, atau jika hal itu dilakukan oleh pihak ketiga. Jika begitu, maka permohonan maaf tentu akan menjadi tidak relevan.

(sip/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads