Habibie naik podium mulai pukul 16.05 WIB untuk memberikan pidato penutup dengan tema "Iptek sebagai Arus Utama Politik Negara". Baru beberapa menit di podium, mantan Menristek itu langsung menceritakan kalau dia sedang mengenakan selendang almarhum istrinya.
"Selendang ini milik Ibu Ainun. Lagi saya pakai terus buat ingat beliau. Tadi pagi saya ziarah ke Kalibata," ujar Habibie di depan ratusan peserta acara Musrenas Iptek 2014 di Auditorium Gedung 2 BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (8/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita nomor dua setelah Brasil yang punya luas hutan terbesar di dunia. Hewan dan tumbuhan di hutan bagus berpotensi untuk kemajuan nilai tambah Iptek. Punya nilai tambah untuk dikelola. Kita bisa berkembang menjadi produsen obat terbesar di dunia," kata pria berusia 78 tahun itu.
Dia juga mengatakan mesti ada prioritas dalam bidang iptek yaitu dengan fokus di pasar domestik. Menurutnya, Indonesia punya potensi dalam pasar iptek. Namun, menurutnya hal ini harus diimbangi dengan kemampuan cukup di bidang pangan.
Habibie menambahkan kalau ingin iptek diprioritaskan seperti di Jepang atau Jerman, maka ada beberapa sektor yang mesti dimaksimalkan. Dia pun merincikan seperti potensi industri transportasi,
Industri telekomunikasi, industri pembangkit, industri mesin, industri tekstil, dan industri bangunan.
"Jepang menjadi seperti sekarang karena dia dulu kalah perang. Tapi, terus gerak sehingga seperti sekarang. Industri-industri yang disebut tadi itu yang juga mesti dilihat diprioritaskan di samping juga industri jasa dan industri pangan," sebutnya.
(hat/sip)










































