Independence Hall, Tempat Sejarah Amerika Serikat Bermula

Laporan dari AS

Independence Hall, Tempat Sejarah Amerika Serikat Bermula

- detikNews
Jumat, 08 Agu 2014 11:40 WIB
Independence Hall, Tempat Sejarah Amerika Serikat Bermula
Foto: Shohib Masykur/detikcom
Washington DC - Independence Hall adalah tempat sejarah Amerika Serikat bermula. Menjadi saksi bisu bagi salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah umat manusia, gedung tersebut kini ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Koresponden detikcom di Washington DC, Shohib Masykur, berkesempatan mengunjungi dan dengan senang hati berbagi cerita dengan pembaca.

Revolusi dan Ironi Sejarah
Lebih dari dua abad lalu, saat perang revolusi berkecamuk di Amerika, para pemimpin dari 13 koloni Inggris di Amerika berkumpul di sebuah gedung di Philadelphia. Mereka berdiskusi dan berdebat guna menyatukan sikap terhadap kebijakan kerajaan Inggris di bawah King George III yang telah melanggar hak sipil dan mengekang kebebasan ekonomi kawasan koloni.

Dari diskusi dan debat panjang itu, yang diselingi dengan proses negosiasi dengan Inggris yang tak membuahkan hasil, akhirnya tercapai tekad bersama untuk merengkuh kemerdekaan—melepaskan diri secara total dari kekuasaan Inggris. Sebuah pelajaran penting dipetik: bahwa kegagalan dipomasi telah membawa berkah yang tersembunyi, meski berkah itu harus diperjuangkan dengan taruhan nyawa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Independence Hall, para pendiri Amerika Serikat merumuskan dan menyepakati naskah deklarasi kemerdekaan yang legendaris itu.

"We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights, that among these are Life, Liberty and the pursuit of Happiness."
 
[Kami memegang teguh ini sebagai kebenaran nyata, bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka diberkati oleh Pencipta dengan hak yang tidak dapat dipisahkan, bahwa di antara hak-hak itu adalah hak untuk Hidup, hak atas Kebebasan dan hak untuk meraih Kebahagiaan].

Maka, pada tanggal 4 Juli 1776, lahir lah sebuah negara demokrasi modern pertama di dunia bernama Amerika Serikat.

Namun kelahiran itu menghadirkan sebuah ironi sejarah: bahwa negara modern berbasis kontrak sosial yang konsepnya digagas oleh para intelektual Eropa—John Locke dan Jean-Jacques Rousseau, misalnya—justru lahir di benua antah berantah bernama Amerika, tempat bagi "orang-orang buangan" dari Eropa.

Sementara di negeri asalanya, kekuasaan masih mengenakan jubah lama. Inggris diperintah oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan absolut, King Goerge III. Prancis dikuasai oleh King Louis XVI dengan kekuasan—dan istri—yang tak kalah absolut. Sejarah mencatat, King Louis XVI dan sang istri, Marie Antoinette, tak lama kemudian menjadi sasaran amuk revolusi Prancis dan tumbal paling menyedihkan bagi pisau tajam guillotine.

Ketiga belas koloni yang berpartisipasi pada pertemuan menjelang deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat itu selanjutnya dikenal dengan sebutan The Thirteen Colonies—13 koloni yang pertama-tama memerdekakan diri. Mereka adalah Delaware, Pennsylvania, New Jersey, Georgia, Connecticut, Massachusetts Bay, Maryland, South Carolina, New Hampshire, Virginia, New York, North Carolina, dan Rhode Island and Providence Plantations.

Belakangan, koloni-koloni lain menyusul bergabung, hingga akhirnya saat ini AS memiliki 50 negara bagian dan 14 wilayah teritorial plus satu distrik federal yang menjadi ibu kota (Washington DC).

Mesin Waktu
Independence Hall terletak di jantung kota Philadelphia, negara bagian Pensylvania. Perjalanan dengan mobil dari Washington DC ke sana memakan waktu kurang lebih dua setengah jam. Kini, tempat di sekeliling gedung tersebut telah disulap menjadi sebuah kompleks wisata yang merupakan situs sejarah warisan dunia. Di area sekitarnya berdiri gedung perkantoran dan toko yang berderet di sepanjang jalan layaknya kota-kota lain di Amerika.

Saat detikcom berkunjung awal Agustus 2014 lalu, kompleks besejarah itu tengah ramai dikunjungi wisatawan. Untuk masuk ke Independence Hall, pengunjung harus antre dan menjalani pemeriksaan keamanan secara ketat. Tas dibuka dan digeledah. Pengunjung diminta untuk memutar badan 360 derajat di depan petugas keamanan untuk memastikan tidak ada barang berbahaya yang dibawa.

Dari luar, gedung bergaya Georgian yang selesai dibangun pada tahun 1753 itu tampak masih kokoh. Menaranya menjulang tinggi dengan pucuk serupa penangkal petir. Di depannya, patung George Washington berdiri anggun. Di kedua sisi gedung yang menghadap ke luar dan ke dalam terdapat jam dinding permanen bertuliskan angka Romawi yang masih berfungsi dengan baik. Jarum pendek menunjuk ke angka 3 saat detikcom mengunjungi tempat tersebut bersama ratusan wisatawan yang lain.

Mulanya, gedung itu digunakan sebagai kantor parlemen Pensylvania. Setelah perang revolusi pecah, gabungan para pemimpin dari 13 negara bagian yang dikenal dengan sebutan Continental Congress menggunakannya sebagai markas untuk mengelar pertemuan-pertemuan penting—dan selanjutnya melahirkan bukan saja Deklarasi Kemerdekaan, melainkan juga Konstitusi Amerika. Lantaran peran historisnya dalam kemerdekaan Amerika Serikiat itulah gedung tersebut dinamakan Independence Hall—Aula Kemerdekaan.

Setelah berbilang abad berlalu, desain interior ruangan di dalam gedung tetap dipertahankan seperti semula. Sebagian besar perabotnya masih asli: meja, kursi, tempat pulpen, chandelier. Di sana lah dahulu, di suatu masa lebih dari dua ratus tahun lalu, tokoh-tokoh pendiri Amerika Serikat—George Washington, John Adams, Thomas Jefferson, dan lainnya—duduk dan berdiskusi untuk membahas "agenda revolusi."

Meja yang mereka gunakan adalah meja yang sama. Kursi yang mereka duduki adalah kursi yang itu juga. Menyaksikan perabot di ruangan itu, pengunjung seperti diajak naik mesin waktu untuk meresapi fakta bahwa, meminjam istilah Michele Obama, "sejarah benar-benar dibuat oleh orang yang pernah hidup di masa lalu."

Jika gambar bisa berbicara ribuan kata, maka meja dan kursi di ruangan itu bisa berbicara melebihi ribuan gambar.

Congress Hall: Ironi Sejarah yang Lain
Tidak jauh dari Independence Hall, masih dalam satu rangkaian bangunan, berdiri Congress Hall. Di tempat itu lah Congress menggelar berbagai pertemuan sebelum Washington DC dibangun sebagai ibu kota negara. Keputusan untuk membangun Washington DC juga dikeluarkan di tempat tersebut oleh Congress pada tahun 1790, atau empat tahun setelah deklarasi kemerdekaan.

Lewat Residence Act, Congress sepakat untuk membangun sebuah ibu kota bagi negara federal Amerika Serikat di kawasan Potomac River, daerah perbatasan negara bagian Virginia dan Maryland. Adapun penentuan lokasi persisinya diserahkan kepada George Washington—mantan panglima tertinggi angkatan perang AS di era revolusi sekaligus presiden pertama yang menjabat mulai tahun 1789.

Sebagai ibu kota, kawasan baru berukuran 100 mil persegi tersebut akan dinamakan District of Columbia (DC) dan tidak menjadi bagian dari negara bagian manapun. Selanjutnya, kota itu dinamakan Washington DC sebagai penghormatan terhadap George Washington.

Di Congresss Hall itu pula terjadi transisi kekuasaan pertama dalam sejarah Amerika Serikat. Setelah menjabat selama dua periode dengan dukungan suara mutlak dari Congress, akhirnya Goerge Washington menyerahkan kekuasaan kepada presiden penerusnya, John Adams, pada tahun 1797.

Sebenarnya Congres menghendaki agar Washington meneruskan jabatannya, namun dia menolak. Washington menyadari bahwa kekuasaan tidak boleh terlalu lama berada di tangan satu orang. Dia tidak ingin revolusi yang telah memakan banyak korban itu berujung pada kekuasaan monarki dalam wujud yang lain. Karenanya, meski Congress secara bulat mendukungnya untuk tetap menjabat pada periode ketiga, Washington dengan tegas menolaknya.

Tindakan Washington itu menjadi preseden bagi presiden setelahnya untuk menjabat maksimal selama dua periode. Meski aturan resmi mengenai larangan menjabat tiga periode baru dituangkan dalam Amandemen ke-22 Konstitusi Amerika Serikat tahun 1951, namun pada praktiknya tidak pernah ada presiden yang menjabat lebih dari dua periode bahkan sebelum amandemen dilakukan.

Selain itu, Washington juga membuat preseden untuk panggilan terhadap presiden. Mulanya, gelar yang digunakan saat pelantikan pertamanya adalah His High Mightiness, the President of the United States and Protector of their Liberties—Baginda Agung, Presiden Amerika Serikat dan Pelindung Kebebasan. Namun karena gelar itu dianggap terlalu berbau monarki, akhirnya Washington menggantinya dengan panggilan yang lebih sederhana: Mr. President—Bapak Presiden.

Dengan panggilan itu, bukan saja Washington telah membuat proses seremoni menjadi lebih sederhana, melainkan juga mengubah citra kekuasaan dari yang tadinya berkesan melangit menjadi lebih bersifat membumi. Meski ada tokoh yang menyatakan ketidaksetujuannya karena menganggap panggilan itu terlalu sederhana dan kurang bergengsi, namun upaya untuk mengubahnya berbuah kegagalan lantaran keteguhan Washington. Akhirnya, Panggilan Mr. President itu tetap dipakai hingga sekarang.

Ada yang menarik perhatian dari gedung Congress Hall. Di kedua Ruang Komite terpampang dua lukisan orang berukuran besar: King Louis XVI dan Marie Antoinette. Lukisan itu merupakan hadiah dari kerajaan Prancis kepada Amerika. Pejuang revolusi Amerika memang bersahabat baik dengan monarki Prancis. Mereka mendapat bantuan stok senjata dari Prancis untuk melawan Inggris pada masa perang revolusi.

Sebagai bentuk rasa terima kasih atas dukungan Prancis, Congress menggantung lukisan King Louis XVI dan istrinya di dinding Ruang Komite. Konon, setelah Congress menerima kabar bahwa suami istri itu tewas dilibas oleh revolusi pada tahun 1793, mereka menutup lukisan keduanya dengan kain hitam sebagai tanda berkabung.

Barangkali ini adalah ironi sejarah yang lain. Revolusi Amerika yang menggaungkan pemberontakan terhadap kekuasaan absolut salah seorang raja Eropa itu (Inggris) dibantu oleh raja Eropa lain yang juga memegang kekuasaan absolut (Prancis). Pada gilirannya, raja Eropa yang membantu revolusi Amerika itu juga tumbang oleh revolusi di negerinya sendiri. Lalu, negeri yang sudah dia bantu meraih kemerdekaan lewat revolusi meratapi kematiannya. Sementara di negerinya sendiri, kematian itu disambut dengan sorai gembira oleh rakyat jelata.

Shohib Masykur; mahasiswa pascasarjana Georgetown University dan koresponden detikcom di Washington DC (Twitter: @thepenguinus). Tulisan ini diolah dari berbagai sumber.

(try/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads