Lampu neon berpendar terang. Suara mesin gerinda masih terdengar nyaring. Perbincangan sejumlah orang tak jauh dari seputar batu akik.
"Ini namanya lavender raja," terang seorang remaja pada rekannya, Kamis (7/8/2014) pukul 22.30 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sini bisa sampai pukul 02.00 WIB, ya gini aja ramai," terang Imron pedagang batu akik yang juga pemilik lapak.
Sudah tiga bulan ini dia membuka lapak batu akik di tempat itu. Buka siang hari dan tutup pada dini hari. Pembelinya aneka rupa mulai dari anggota TNI, polisi, mahasiswa, pelajar, karyawan pabrik, sampai kakek-kakek.
"Ya mudah-mudahan ini panjang demam batu akiknya," terang Imron dengan sumringah.
Selama tiga bulan ini paling sedikit Rp 600 ribu dia kantongi dalam semalam. Pelanggannya memang datang sejak siang hingga dini hari.
"Kita beli bahan mentah, nanti pelanggan tinggal pilih bahan apa yang dimau, langsung kita gosok," jelasnya.
Untuk menggosok batu hingga halus dan cantik dia hanya meminta ongkos Rp 10 ribu, untuk bahan batu dihargai Rp 5 ribu, dan untuk memotong batu Rp 10 ribu.
"Buat iketan Rp 25 ribu, jadi dapat batu bagus pelanggan cuma bayar Rp 45 ribu," imbuh dia.
Harga murah membuat lapaknya selalu kebanjiran konsumen. Dahulu dia membuka cucian motor, tapi ketika demam akik melanda alih profesi dilakukannya.
"Alhamdulillah, ini bisa buat susu anak. Ini lapak juga bagi rezeki buat orang di sekitar, warung kopi di sebelah ikut laris, tukang nasi juga," tuturnya.
Demam batu akik yang melanda memang menjadi rezeki tak hanya bagi Imron, tetapi juga bagi banyak orang lainnya. Batu akik alami asli Indonesia ini juga semakin disukai.
"Batu akik itu anugerah Allah, semua batu bagus nggak ada yang jelek. Semoga aja ramai terus," tutup dia.
(ndr/vid)











































