Rasta (42), nelayan di Desa Banten, mengatakan, sebuah kapal kecil terbalik kemudian tenggelam, Kamis (7/8/2014) sekitar pukul 14.00. “Ada empat nelayan di kapal itu. Untung, pada saat-saat terakhir, ada kapal nelayan lain lewat. Kalau tidak, entah bagaimana nasib mereka. Tadinya mereka sudah pasrah,” kata Rasta.
Para nelayan dari Desa Banten itu akhirnya bisa diselamatkan namun perahu berikut perlengkapannya tenggelam. “Arus saat ini sedang sangat kuat. Apakah perahu itu pecah? Saya tidak tahu. Mereka mau mencari lagi perahu dan alat pencari rajungannya besok,” imbuh Rasta.
Giman (51), warga Desa Banten, mengatakan, gelombang tinggi menyebabkan sejumlah nelayan di desanya kehilangan pendapatan karena tak bisa melaut. “Pendapatan nelayan bisa mencapai Rp 100.000 per hari. Tinggi gelombang hingga tiga meter. Kelompok nelayan saya terdiri dari sekitar 50 orang,” ungkapnya.
Sekitar 20 nelayan dari kelompok itu tidak bisa melaut karena hanya memiliki perahu kecil. Menurut Giman, berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, perahu kecil sering terbalik saat gelombang sedang tinggi. Nelayannya pun bisa tergulung jaring.
“Kalau perahunya besar, nelayan masih bisa bekerja. Perahu kecil susah digunakan ketika gelombangnya tinggi. Memang, belum ada korban akibat gelombang tinggi,” tuturnya. Namun, lanjut Giman, kondisi saat ini menyebabkan hasil tangkapan tak sebanyak biasanya.
Mereka yang tak bisa melaut melakukan pekerjaan lain seperti tukang ojek, buruh bangunan, atau kuli angkut. Giman memperkirakan, tinggi gelombang akan berkurang mulai September mendatang. Tinggi gelombang yang normal sekitar satu meter.
(vid/vid)











































