"Perang terbesar hawa nafsu itu terjadi di pemilu, apalagi Pilpres. Orang tidak saling kenal jadi bertengkar mendukung mati-matian termasuk tokoh-tokoh politik hebat yang sedang terbuat dengan hawa nafsunya," ujar Jimly saat memimpin jalannya sidang di Ruang Sidang DKPP, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (7/8/2014).
Menurutnya, konflik berkepanjangan selama pemilu berlangsung ini dipicu karena akal sehat masing-masing pihak mendukung pilihannya terlalu dibutakan kepentingan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kadang kita suka membiarkan praktek tidak mulia terjadi di depan kita. Kalau mau membangun demokrasi yang berintegeritas tidak akan seperti itu (menyuap). Saudara melapor karena tidak berhasil, coba kalau berhasil pasti diam saja. Anda kan ketahuan jadinya pernah melakukan suap," lanjutnya.
Agenda sidang DKPP hari ini beragendakan dugaan praktek suap yang dilakukan DPC Gerindra Kabupaten Serang terhadap KPUD Kabupaten Serang. Partai berlambang garuda emas itu memberi sejumlah uang kepada anggota KPUD, Adnan Hansin untuk memuluskan pencalegan para kadernya.
Pihak teradu yang merupakan Caleg DPRD RI M. Abnas yang gagal lolos. Dikatakannya, Adnan menerima Rp 10 juta untuk dana pengamanan dan Rp 25 juta untuk pengamanan suara.
Proses sidang berjalan cukup alot, pasalnya kedua belah pihak saling membantah tuduhan yang dilemparkan. Untuk itu, Jimly selaku hakim kembali berpesan agar hal ini dijadikan pelajaran bagi semua pihak di kemudian hari.
"Kalau mau membangun demokrasi yang berintegeritas tidak akan seperti itu (menyuap). Saudara melapor karena tidak berhasil, coba kalau berhasil pasti diam saja. Anda kan ketahuan jadinya pernah melakukan suap. Sidang ini harus jadi pelajaran kita semua. Kita ini berburu kekuasaan kita jadi lupa bermulia hidup," nasehatnya.
Hasil persidangan ini masih akan dirapatkan oleh tim pemeriksa daerah untuk dibawa ke rapat pleno DKPP. Pihaknya mengatakan secepatnya hasil sidang akan diputuskan sebelum Pilpres berakhir.
(aws/gah)











































