Pasien Diduga Ebola di Jeddah Saudi Meninggal, WNI yang Akan Haji Hati-hati

Pasien Diduga Ebola di Jeddah Saudi Meninggal, WNI yang Akan Haji Hati-hati

- detikNews
Kamis, 07 Agu 2014 08:14 WIB
Jakarta - Seorang pasien berusia 40-an tahun yang memiliki gejala mirip Ebola yang dirawat di Jeddah, Arab Saudi meninggal dunia. Pemerintah Saudi mengumumkan kalau pasien itu sudah menjalani mendapat perawatan amat intensif dalam ruangan yang isolasi ketat.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Prof Tjandra Yoga Aditama, Kamis (7/8/2014), jenazah pasien ini dikuburkan dengan cara Islam dan mengikuti prosedur pengawasan kesehatan, berbeda dengan kasus di Liberia yang dilaporkan tidak dikubur tapi di kremasi.

"Hasil Lab belum dilaporkan oleh pemerintah Arab Saudi, hanya kalau positip akan menjadi kasus Ebola pertama yang meninggal di luar Afrika," terang Tjandra.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tjandra juga menerangkan, warga Saudi yang sakit itu baru pulang dari perjalanan bisnis ke Sierra Leonne. Pasien menunjukkan gejala-gejala seperti Ebola Hemoragic Fever.

"Tentu kita berharap agar hasil laboratoriumnya negatif. Kalau saja hasil laboratorium positip, maka pasien yang sedang dirawat di Red Sea Hospital ini tentu akan jadi perhatian penting dunia (dan juga Indonesia), apalagi menjelang musim haji yang tinggal sebentar lagi ini," jelas dia.

Tjandra menyampaikan, Kemenkes Arab Saudi juga menyatakan bahwa mereka menangguhkan pemberian visa haji dan umroh bagi warga 3 negara yang Ebola sedang mewabah, Liberia, Guinea dan Sierra Leonne. Mereka juga sudah menyiapkan kantor kesehatan pelabuhanβ€Ž yang merupakan port of entry ke Saudi Arabia.

Sementara itu, dua orang pasien Ebola warga Amerika Serikat masih terus dirawatβ€Ž di Amerika Serikat. Mereka mendapat obat ZMapp, yang sebenarnya masih dalam penelitian. Obat bernama ZMapp kini digunakan untuk mengobati petugas Amerika Serikat yang terkena Ebola di Afrika.

Obat ini sebenarnya masih dalam proses penelitian (eksperimen), dan keamanannya pada manusia belum pernah diteliti, dan baru pernah dicoba pada monyet percobaan. Tapi memang obat ini digunakan pada dua pasien Amerika itu karena belum ada pilihan lain.

ZMapp berisi 3 jenis antibodi monoklonal yang di proses di tanaman, a.l Nicotiana benthamania. Tanaman ini adalah suatu jenis khusus daun tembakau yang digunakan untuk penelitian agroinfiltration, dimana rekombinan agrobacterium digunakan untuk memasukkan bahan genetik baru ke dalam tanaman.

ZMapp juga merupakan koktail kombinasi antara beberapa obat lain, yaitu MB-003 dan ZMab. Mekanisme kerjanya belum sepenuhnya diketahui, mungkin menghambat virus memperbanyak diri, atau melakukan neutralisasi virus itu.

"Untuk dapat kemudian diakui khasiat dan keamanannya serta digunakan secara luas, maka obat ini masih memerlukan proses penelitian, yaitu uji klinik fase 1, fase 2 dan fase 3β€Ž. Tentang hasil pengobatan yang sementara ini cukup baik pada ke dua pasien Amerika β€Ž, maka masih ada 2 kemungkinan. Pertama, memang obat eksperimen ini memberi hasil, atau kedua, memang pasien-pasien ini tergolong dalam 40% pasien Ebola yang sembuh. Seperti diketahui maka sekitar 60% pasien Ebola sekarang meninggal dunia, artinya sekitar 40% lainnya memang sembuh," tutur Tjandra.

(ndr/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads