"Saya dipaksa tukar 300 USD. Uang segitu kan gede banget di tahun 1997. Koper saya saja sampai di bawa kabur paksa dikiranya duit juga kali," kata perempuan yang dipanggil Asen saat dihubungi detikcom, Kamis (7/8/2014).
Asen mengaku tidak hanya perampasan uang dan koper, dia juga digeledah paksa hingga pakaian dalamnya digerayangin petugas perempuan bandara. Karena pengalaman pertama kali pulang dari luar negeri sebagai TKI, Asen takut dan hanya berusaha menurutinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ย Begitu selesai penggeledahan, selanjutnya Asen menjadi sasaran travel penjemput TKI yang nakal. Awalnya, dia ingin naik bus khusus dari bandara, tapi dipaksa naik mobil travel dengan biaya Rp 350 ribu untuk tujuan Indramayu, Jawa Barat. Tapi, begitu sampai dekat rumah, dia lagi-lagi diperas. Kali ini oleh sopir serta kenek mobil travel yang meminta jatah Rp 300 ribu.
"Mereka maksa, saya cuma kasih Rp 200 ribu. Dikasih segitu marah, marah ngatain saya dan ngancam," katanya.
Belajar dari pengalaman pahit tersebut, Asen kemudian hati-hati jika pulang ke Indonesia. Pengalaman selanjutnya setelah dari Qatar, Korea Selatan, dia bisa mensiasatinya untuk menghindari mafia TKI di bandara Cengkareng. Meski masih ada sedikit rampasan harta, tapi menurut Asen jumlahnya kecil dan tidak besar seperti yang pertama kalinya.
"Ampun mas, itu uang buat keluarga saya. Makanya saya hati-hati benar kalau mau pulang lagi. Terakhir sih pulang dari Korea 2010 agak aman lah di bandara. Ya ada sedikit paksaan juga," sebutnya.
Menanggapi pengakuan adanya pemerasan kepada TKI ini, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto angkat bicara. Sebelumnya KPK juga sudah mengungkap adanya praktek pemerasan oleh oknum di bandara, dalam operasi sidak hasil kerjasama dengan Bareskrim Polri dan UKP4.
"Testimoni pemerasan dari TKI mengkonfirmasi adanya indikasi penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan berbagai pihak yang terlibat dalam pengurusan TKI sejak dan pasca kepulangan TKI via bandara," ujar Bambang.
(hat/fjp)











































