Kolom
Jeda Menjelang 2005
Jumat, 31 Des 2004 15:28 WIB
Jakarta - Memasuki tahun kelima setelah pencanangan 'era milenium' yang hingar-bingar dengan fobia Y2K syndrome, masyarakat Indonesia ternyata masih harus berhadapan dengan fobia dan sindrom lain yang datang bertubi-tubi.Terorisme bukan lagi di negeri antah berantah. Gejolak politik beruntun menghasilkan kelelahan sekaligus ketidakpedulian. Kemajuan teknologi leluasa dinikmati dan semakin mudah dimiliki meski mengabaikan fungsi. Indikator ekonomi belum pada strata yang menentramkan, namun menghasilkan orang-orang kaya baru dan masyarakat konsumtif yang makin meluas.Sementara terpaan media menjelma sebagai sebuah barometer, guru sekaligus belenggu. Betapa banyak anomali, mimpi, bencana dan fakta paradoksial yang disajikan media menjadi turbulensi yang berlalu begitu saja, atau justru dinikmati. Peristiwa demi peristiwa terjadi dalam intensitas yang tinggi tidak menghasilkan perubahan yang konstruktif tetapi justru menjadi ketetapan yang nyaris absolut. Seperti apakah citra individu yang hidup dalam entitas seperti itu? Kuntowijoyo dalam tulisannya di Kompas (23/12/2004) menyebutnya sebagai individu yang bergantung pada patron. Ironinya patron itu diciptakan oleh sebuah 'kekuasaan' lain di luar kuasa dirinya. Memang tidak semuanya terbawa arus dalam kesibukan mengejar patron itu. Masih banyak individu mandiri yang tetap kukuh, individu panutan yang semakin eksis baik karena 'jasa' media maupun yang diam-diam tersembunyi.Namun, sebagaimana sifat sebuah perubahan sosial, selalu ditandai dengan perilaku dan nilai dominan. Perilaku itu menjadi sebuah epidemi baru dalam masyarakat. Membentuk nilai baru yang diyakini sebagai sebuah 'jalan hidup'.Begitu kuatnya daya pesona dan cengkeraman 'jalan hidup' itu hingga banyak individu yang telah teralienasi, namun tetap bertahan demi eksistensinya di patron. Jeda untuk memikirkan yang terjadi di dalam maupun di luar dirinya menjadi kesempatan yang langka. Individu semacam ini adalah individu yang terjebak pada obsesi mengejar tujuan yang sebenarnya jauh dari kesejatian dirinya. Kedudukan, pengakuan, status, prestise, kekayaan, popularitas adalah beberapa superficial reward yang didamba dan terus dikejar meskipun itu semakin menjauhkan dari 'lapisan-dalam' dirinya.Waktu menjadi hilang kesakralannya. Bukan hanya karena globalisasi telah menjadi nyata, namun juga benturan peristiwa kehidupan yang datang silih berganti tanpa ampun: mengantarkan individu di dalamnya ke sebuah rutinitas 'kesibukan artifisial' yang tak mudah dihentikan.Sebagaimana waktu, tempat juga mulai pudar makna intinya. Teknologi, perubahan politik dan sosial menjadikan kita sangat dekat tapi sekaligus jauh. Kita semakin mudah dan leluasa berkomunikasi serta menemui orang lain, tapi juga sekaligus menjadi sukar untuk memahami orang lain. Kedekatan justru mempermudah saling sikut.Sebagai salah satu elemen masa, tahun hanyalah sebuah tanda. Simbolisme buatan manusia yang disepakati bersama dalam sebuah entitas. Bermakna atau tidak sebuah simbol tergantung dari individu di dalamnya. Jangan biarkan pergantian tahun ini berlalu dan menjadi ritual yang kehilangan esensinya hanya karena patron menuntut demikian. Marilah kita memberi makna yang mulia dengan menjadikan pergantian tahun ini sebagai sebuah jeda, sebagai quiet time yang akan menyadarkan dan melepaskan kita dari patron di luar kesejatian diri. Jeda yang akan melepaskan dari trauma masa lalu sekaligus ketakutan akan masa depan. Bukankah musik menjadi indah dan bisa kita nikmati karena adanya jeda? Selamat Tahun Baru 2005!
(diks/)











































