"Sejauh ini pemerintah belum pernah melakukan klarifikasi kepada kami. Seharusnya terlebih dulu dibuka pintu dialog. Dugaan kami pemerintah mendapatkan informasi yang tidak benar mengenai dukungan kami tersebut, kemudian tergesa-gesa mengeluarkan larangan," ujar Amir Mahmud kepada wartawan di Solo, Rabu (6/8/2014).
Amir mengakui dia dan sejumlah aktivis lainnya mendirikan Forum Pendukung Daulah Islamiyyah yang memberikan dukungan terhadap ISIS. Pada 15 Juli lalu, Amir Mahmud dan Afif Abdul Majid memimpin sebuah forum yang dihadiri lebih dari seribu orang di sebuah masjid di Solobaru, Sukoharjo. Forum tersebut kemudian berujung baiat dukungan terhadap ISIS dengan membentuk wadah bersama untuk mendukung berdirinya sebuah daulah Islamiyah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amir yang juga veteran kombatan Afghanistan tersebut menilai baiat bukan sebuah peristiwa luar biasa karena karena hanya membuat sebuah ikrar dukungan terhadap keberadaan sebuah daulah Islamiyyah. Doktor studi Islam lulusan UIN Yogyakarta tersebut mengatakan bahwa dalam ikrar tersebut para peserta baiat mendukung lahirnya sebuah kekhalifahan yang mencerminkan kebangkitan Islam.
Menurutnya tidak ada yang salah dengan dukungan seperti itu karena kerinduan umat Islam terhadap berdirinya sebuah khilafah sudah mengemuka sejak seabad terakhir. Lagipula gairah untuk mendukung khilafah di Indonesia sangat kuat dan besar sehingga tidak ada salahnya jika pihaknya perlu untuk membuatkan wadah bersama.
"Hingga saat ini dukungan dari masyarakat Indonesia ini terhadap ISIS baru pada tingkat wacana dalam wadah forum yang sangat cair. Belum ada pemikiran mengembangkan forum itu menjadi sebuah gerakan dan organisasi. Jadi saya kira pemerintah sengaja membesar-besarkan isu tersebut. Saat ini kan sedang transisi pemerintahan, saya kira isu ISIS ini sengaja diembuskan untuk menaikkan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah," pungkasnya.
(mbr/try)











































