Soal Perayaan Tahun Baru, SBY Seharusnya Bisa Tegas

Soal Perayaan Tahun Baru, SBY Seharusnya Bisa Tegas

- detikNews
Jumat, 31 Des 2004 11:42 WIB
Jakarta - Kepekaan pemerintah dan sebagian masyarakat Indonesia perlu dipertanyakan. Di saat musibah Tsunami melanda negeri ini, mereka tetap saja menganggap seperti hal yang biasa. Bahkan, ada pemerintah daerah yang tetap ngotot menggelar pesta tahun baru. Seharusnya, Presiden SBY bisa lebih tegas sedikit. Pemerintah Malaysia mungkin bisa dicontoh Indonesia. Meski korban di Malaysia jauh lebih sedikit, tapi Perdana Menteri Ahmad Badawi melarang perayaan Tahun Baru sebagai kepedulian terhadap warga korban Tsunami. Bahkan, sampai-sampai pertandingan sepak bola Piala Tiger ditunda. Di Indonesia? Presiden SBY tampaknya tidak setegas PM Ahmad Badawi. Presiden tetap memperbolehkan perayaan Tahun Baru, namun mengimbau agar perayaan itu dilakukan untuk penggalangan dana untuk Aceh. Bagi SBY, perayaan tahun baru sudah menjadi tradisi di Indonesia. Sejumlah pemerintah daerah juga tetap bersikukuh untuk menggelar pesta tahun baru dengan diramaikan dengan pesta kembang api. Tapi, akhirnya mereka membatalkannya. Sayangnya, pembatalan acara itu setelah didahului dengan protes dan kecaman dari masyarakat. Sutradara Film Cut Nya' Dien Erros Djarot termasuk geleng-geleng kepala dengan kadar kepekaan ini. Menurut dia, seharusnya Presiden SBY bisa bertindak lebih tegas, tidak hanya sekadar mengimbau terkait perayaan Tahun Bary. "SBY ini selalu mengedepankan kesopanan saja. Sekali-kali memberikan keputusan sedikit brutal atau slengekan dikit kan gak apa-apa. Ini musibah yang luar biasa, sudah darurat," ungkap Erros yang kini disibukkan dengan pengkoordinasian bantuan untuk Aceh ini. Bagi Erros, sebaiknya semua acara perayaan tahun baru di hotel-hotel itu dibatalkan semua dan dananya dimobilisasikan ke sana. "Karena itu, kalau masih ada siapa pun yang merayakan tahun baru di hotel besar, saya menganggap dia sudah mati, sudah bukan orang hidup lagi. Di mana moral dia, terlepas ini memang hak asasi setiap manusia," kata Erros saat dihubungi detikcom, Jumat (31/12/2004). Erros menyesalkan mengapa masih banyak orang yang tega membeli tiket dengan harga mahal untuk merayakan tahun baru di hotel-hotel yang mendatangkan penyanyi terkenal. "Kok tega banget rela mengeluarkan uang membeli tiket untuk datang ke acara artis terkenal di hotel besar, sedangkan saudara kita di Aceh menderita. Seharusnya, acara ini sebagai perenungan," ungkapnya. Selanjutnya, Erros berharap bahwa musibah di Aceh ini dijadikan sebagai momentum dalam rangka konsolidasi nasional. "Ini pesan saya kepada Pak SBY," kata dia. Sebelumnya, banyak imbauan agar Presiden SBY melarang pesta peringatan tahun baru terkait musibah tsunami Aceh dan Sumatera Utara (Sumut). Dengan pelarangan itu, diyakini akan bisa menyadarkan pejabat dan masyarakat yang tetap akan merayakan tahun baru. Tapi, dalam rapat kabinet di Istana sekian jam, Presiden SBY tetap membolehkan acara perayaan tahun baru itu dan mengimbau agar perayaan dijadikan penggalangan dana. Salah satu pemerintah daerah yang dijadikan sorotan adalah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Gubernur DKI Sutiyoso ngotot tetap menggelar pesta perayaan tahun baru di Ancol, Jakarta Utara, meski musibah melanda Aceh. Bahkan, pada Rabu (29/12/2004) lalu, Pemprov DKI tetap akan menggelar pesta kembang ap. Namun, setelah banyak protes datang, acara pesta kembang api itu akhirnya dibatalkan. Sutiyoso tidak sudi membatalkan acara itu, karena sudah terlanjur meneken kontrak dengan sejumlah pihak, termasuk artis. "Memang mudah batal-batalin acara seperti itu," kata Sutiyoso.Banyak email ke redaksi yang memprotes pernyataan Sutiyoso ini. "Di Malaysia bisa membatalkan acara. Kenapa di Jakarta tidak bisa? Ini karena tidak ada kemauan. Seharusnya, gubernur dan artis-artis bisa saja membatalkan acara itu, bila mereka menganggap ini force majeur. Tapi, mereka sepertinya tidak mau rugi. Kalau ada kemauan, pasti bisa," tulis Didin. (asy/)


Berita Terkait