Tak semua orang mampu bertahan hidup penuh keprihatinan di kota sebesar Jakarta. Kebanyakan memilih untuk pasrah atau pun kembali ke desa.
Dalam sebuah rumah tanpa aliran listrik dan atap yang bolong, Engkong Sukri (70) masih semangat bercerita. Melewati siang yang panasnya 30°C itu Engkong Sukri sudah biasa melepas lelah di bangunan berukuran 3x5 meter persegi di Jl EE dekat Pasar Cengkareng, Jakarta Barat.
"Kalau kita baik-baik berjualan, walau pun hanya jualan ikan cupang, pasti orang-orang juga baik sama kita. Saya nggak mampu beli makanan enak, tapi ada saja yang kasih saya buat mencicipi makanan enak," kata Engkong Sukri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kompleks perumahan menengah ke atas itu dekat sekali dengan pusat perbelanjaan. Tapi keberadaan Engkong Sukri tak dipandang sebelah mata.
"Itu anak-anak Kompleks yang kebanyakan Tionghoa senang sekali beli ikan sama saya. Kata mereka kalau bukan di Engkong tidak mau. Lama kelamaan saya jadi dikenal juga sama orang tua mereka yang sering mengantar anaknya beli ikan," ujar Engkong Sukri.
Hampir setiap lebaran Engkong Sukri mendapat rezeki nomplok. Kain sarung dan peci adalah yang paling banyak dia terima.
"Tapi semua sumbangan yang saya dapat itu saya kasih lagi ke Musala di Pekalongan, kampung saya. Di sana sepertinya butuh banyak kain (sarung) buat orang-orang Sembahyang," tutur Engkong Sukri.
"Semua agama mengajarkan untuk berbagi. Orang-orang yang kasih sumbangan ke saya juga bukan cuma Islam, ada Kristen ada Hindu ada Budha. Saya ingat saat natal tahun lalu ada orang Tionghoa yang Kristen memberi makanan ke saya. Dia bilang, 'ini Kong, biar rezeki saya diberkati Tuhan Yesus,' begitu," ujar Engkong Sukri seraya memandangi lafadz Allah yang terbingkai apik di dinding rumahnya.
Teringat kemudian dia ketika tahun '50-an saat masih di Pekalongan. Kampung tempatnya tinggal dekat dengan pabrik tebu.
"Petinggi pabrik itu kebanyakan orang Belanda. Saya sering main bareng anak-anak Belanda yang biasa dipanggil 'Sinyo'. Zaman itu es batu cuma bisa dinikmati orang-orang kaya dan waktu itu saya pingin sekali merasakan es batu. Saya minta ke Sinyo yang orang Belanda itu, dan ternyata dikasih. Ternyata rasanya dingin sekali. Sinyo pun tertawa dan kita tertawa sama-sama," kenang pria beranak lima itu.
Padahal kondisi Engkong Sukri sudah sebegitu memprihatinkan sampai-sampai tidur pun dikelilingi ikan cupang dagangannya. Ternyata itu tak membuat dia serakah dan enggan membagi kesenangan.
"Saya memang sengsara, tapi saya yakin ada yang lebih sengsara lagi daripada saya. Jadi saya sumbangin lagi apa yang saya dapat. Saya sih di umur segini tidak butuh apa-apa selain makan," ucap Engkong Sukri ketika tanpa terasa dia menitikan air mata haru.
Ada nikmat tak tertandingi di balik indahnya berbagi menurut dia. Ketika orang lain tersenyum setelah dibagi kesenangan, itu benar-benar tak ternilai.
"Sambil memberi sumbangan itu di kampung, saya bilang ke anak-anak muda di sana untuk tetap di desa saja. Zaman sekarang hidup di desa jauh lebih enak. Daripada di kota yang sangat susah mencari uang. Saya selalu bilang ke mereka untuk tidak tergoda pergi ke kota," pungkas Engkong Sukri.
(bpn/gah)










































