"Awalnya saya dibilang stres. Bangun pagi gosok cincin. Malam juga begitu. Istri saya sering ngomel," kenang pria yang akrab disapa Budeng ini sambil menikmati kopi di lapaknya, Senin (5/8/2014) malam.
Budeng tampak santai, sesekali dia menimang-nimang bongkaran batu akik yang ada di etalase miliknya. Lalu berganti membuka-buka majalah batu cincin bernama Gem's Stones.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang Bacan ini (sambil menunjuk cincinnya-red), Rp 1,5 juta paling murah baru saya lepas. Kemarin ada yang nawar sejuta gak saya lepas," ujar warga Jalan Nurul Huda Pasar Ciputat ini yang baru dua tahun menjalani usaha sebagai pengrajin batu akik.
Budeng bertutur, masyarakat akhir-akhir ini lebih antusias dengan batu akik. Tentu itu berimbas pada penghasilannya. Biasanya, karena ada tokoh publik yang memakai batu, sehingga banyak masyarakat yang ikut-ikutan. Dia berharap ini bukan hanya fenomena sesaat, karena batu akik ini batu asli Indonesia.
Dahulu dia hanya bekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Tapi bermodalkan tekad dan 'hobby' pada batu cincin, ia belajar sendiri bagaimana menempa bongkaran batu menjadi cincin yang siap pakai.
Saat pertama kali belajar membuat cincin. Banyak ejekan dan cibiran yang diterima ayah dua anak ini. Sebab ya itu tadi, setiap hari hanya menggosok-gosok batu.
Tapi seiring berjalannya hari dan dia sudah membuka usaha sendiri. Ejekan dan cibiran tersebut perlahan mulai hilang. Berganti dengan pujian. Orang-orang yang dulu mencibirnya, kini justru sering datang kepadanya untuk meminta membuat cincin atau pun sekedar konsultasi mengenai harga cincin.
"Istri yang dulu ngomel-ngomel, sekarang duitnya doyan. Kagak ada ngomel lagi," ujarnya dengan logat betawi yang kental.
Penghasilan pria Budeng ini tergolong tinggi. Dalam sehari ia mampu mendulang keuntungan rata-rata Rp 700 ribu. Jika sedang sepi, paling sedikit ia bisa membawa pulang uang Rp 300ribu. Namun jika lagi ramai, Rp 1-jutaan mampu ia raup.
Dia mengatakan, penghasilan utamanya hanya dari upah membuatkan cincin bagi pelanggan yang membawa batu. Pengerjaan satu buah cincin tidak sampai setengah jam. Ia menggunakan cara manual, yaitu dengan lingkar pelak sepeda yang dihubungkan dengan sebuah bundaran untuk membentuk cincin.
"Satu cincin, upahnya antara Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu. Saya pakai cara manual. Bisa sih pakai dinamo, tapi disini listriknya baru jam 5 sore disambungkan," tutup dia.
(idh/ndr)











































