Cerita Engkong Sukri Bertahan Hidup dalam Derasnya Arus Ibukota

Kisah Pendatang Ibukota

Cerita Engkong Sukri Bertahan Hidup dalam Derasnya Arus Ibukota

- detikNews
Selasa, 05 Agu 2014 10:46 WIB
Cerita Engkong Sukri Bertahan Hidup dalam Derasnya Arus Ibukota
Engkong sedang siap-siap berjualan (Bagus/ detikcom)
Jakarta - Bisa dibilang rumah di Jl EE dekat pasar Cengkareng, Jakarta Barat itu tak cukup nyaman untuk ditinggali. Listrik yang terputus karena tunggakan dan atap-atap bolong menghiasi rumah berukuran 3x5 meter persegi itu.

Engkong Sukri (70) sudah tinggal berpuluh-puluh tahun di situ dan tak satu keluhan pun keluar dari tuturnya. Sembari membereskan dagangan yang berupa ikan-ikan Cupang dan burung emprit, berceritalah dia akan kehidupannya.

"Saya pertama kali ke Jakarta tahun 1964. Awalnya saya diajak teman untuk sekolah di Jakarta. Dulu kami sama-sama berpikir kalau sekolah di kota besar pasti membuat kita sukses," ucap Engkong Sukri mengawali siang dengan cerita di rumahnya, Senin (4/8/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pergilah kemudian dua Alumnus SD Muhammadiyah Pekalongan, Jawa Tengah itu ke Jakarta, kota impian orang-orang desa waktu itu. Sempat mereka putus sekolah beberapa tahun karena instansi pendidikan belum tersebar ke seluruh desa.

"Dulu kita kira bisa sekolah SMP di Jakarta. Bisa sekolah negeri atau sekolah di Muhammadiyah lagi. Ternyata di Jakarta malah lebih susah hidupnya. Kita harus kerja sangat keras untuk bisa hidup," tutur Engkong Sukri.

Awal menapakkan kaki kala itu, Engkong Sukri dan temannya bekerja di kebun milik paman jauh. Saat itu masih banyak tanah lapang dan kebun-kebun yang bisa digarap meski hasilnya tak seberapa.

Empat tahun bekerja di kebun, Engkong Sukri merasa tak ubahnya seperti di kampungnya di Pekalongan. Belajarlah dia keahlian lain yakni reparasi jam tangan.

"Saya tekuni keterampilan itu. Kuncinya adalah tidak patok harga terlalu tinggi dan tidak pilih-pilih pelanggan. Lama kelamaan saya dikenal sama orang-orang sini. Semua orang minta dibetulin jamnya sama saya," kata Engkong Sukri.

Seiring berputarnya detik yang berdentang, menginjak dekade '70-an Engkong Sukri menikah. Dia menikahi seorang janda yang dikenalnya.

"Almarhumah istri saya waktu itu punya anak dua. Saya kasihan melihat dua anak yatim dan ingin mengurusnya. Lalu saya menikah sama almarhumah istri saya dan menambah tiga anak lagi," cerita Engkong.

Di tahun 1982 sang istri dipanggil Sang Khalik setelah beberapa tahun sakit. Sejak saat itu Engkong Sukri merawat sendiri kelima anaknya dengan bekerja sebagai apa saja.

"Sekarang semua sudah besar-besar dan berkeluarga. Tapi memang belum sukses, jadi belum bisa membantu saya. Saya juga berpikirnya tidak mau membuat beban anak saya. Malah saya senang kalau kerja, bisa kasih buku buat cucu-cucu saya," tutur Engkong.

Kini Engkong Sukri menanggung hidup dengan berjualan ikan cupang yang dilakoni enam tahun belakangan ini. Asalkan bisa makan, tak apa-apalah mengayuh sepeda untuk mencari ikan cupang berkualitas.

"Saya cuma punya sepeda ini yang sudah 10 tahun lalu saya beli. Kalau belanja ikan di Pasar Ciledug (Tangerang) naik sepeda dari sini. Beli di sana seekor Rp 3.500, lalu saya jual seekor Rp 5.000. Dari dulu saya jual segitu saja tidak naik-naik," kata dia sambil menunjukkan sepeda onthel tua yang rantainya sudah kendur.

Engkong Sukri merasa dirinya sebagai orang kecil di kota besar, bagaikan ikan kecil di perairan besar. Layaknya ikan cupang, meski kecil tetapi amat gigih mempertahankan apa yang dimilikinya.

(bpn/gah)


Berita Terkait