Dalam tradisi ini, warga mengadakan kirab dua gunungan berisi ribuan kupat (ketupat). Kirab diikuti oleh ribuan warga yang terdiri dari tokoh-tokoh lintas agama, kesenian jatilan, hadroh, drumband, dan lain-lain.
Dua gunungan terdiri dari gunungan kakung yang berisi 1.000 kupat dan gunungan wadon yang berisi kupat dan sayuran, buah-buahan serta hasil tani lainnya. Gunungan ini diarak keliling kampung Pandeyan sejauh 3 km, melewati Jl Pandeyan, Jl Babaran, Jl Batikan, Jl Veteran dan kembali Jl Pandean kemudian dibawa ke halaman masjid Ibrahim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kirab ini merupakan warisan leluhur yang masih bertahan di kampung Pandeyan dan menjadi salah satu ikon kampung Pandeyan," kata pengelola kampung wisata budaya Pandeyan, Atmadi Florian.
Kirab gunungan ini sebagai refleksi syukur masyarakat kampung y yang telah diberikan rejeki berlimpah. Gunungan kupat yang disebut gunungan kakung, merupakan simbol persatuan antara rakyat dengan pemimpin.
Tradisi ini merupakan warisan budaya dari para walisongo pada saat transisi kekuasaan dari Majapahit ke Demak Bintoro dari Brawijaya ke V ke Sultan Fatah di Demak Bintoro. Kemudian dilanjutkan dengan pengembangan di kerajaan Mataram.
(try/try)