Rawan Tsunami, Warga Maluku Diminta Waspada

Rawan Tsunami, Warga Maluku Diminta Waspada

- detikNews
Kamis, 30 Des 2004 20:35 WIB
Ambon - Maluku masuk kategori rentan terhadap gelombang tsunami. Warga yang tinggal di pesisir pantai dan nelayan pun diminta tetap waspada.Hal itu disampaikan Kasubdin Geologi Sumberdaya Mineral dan Energi Dinas Pertambangan Propinsi Maluku, Ir Bram Tomasoa yang ditemui detikcom di kediamannya di Ambon, Kamis (30/12/2004)."Memang benar, wilayah Maluku berada pada daerah yang rentan terhadap gelombang tsunami. Untuk itu masyarakat Maluku, khususnya mereka yang tinggal di pesisir pantai atau para nelayan tetap waspada," ujarnya.Menurut dia, dari enam lempengan atau kerak bumi, tiga di antaranya yakni kerak bumi dari Eurasia, kerak bumi dari Hindia Australia dan kerak bumi dari Pasifik dipastikan bertemu di laut Banda.Akibat dari pertemuan itu, dapat terjadi benturan dasyat yang mengakibatkan gempa tektonik. Dan dari gempa tektonik tersebut akan terjadi patahan di tengah laut sehingga menimbulkan lubang yang sangat dalam di laut Banda.Pada saat itu, lanjut dia, air laut akan menyurut masuk lubang tersebut. Setelah lubang penuh, air laut akan keluar dengan kekuatan yang cukup besar, dan otomatis terjadi gelombang tsunami."Saya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti masyarakat, namun saya perlu katakan semua ini agar masyarakat Maluku khususnya masyarakat yang tinggal di pesisir pantai atau para nelayan tetap waspada," kata Tomasoa.Disinggung kapan bisa terjadi gempa dan tsunami di Maluku, menurut dia, hal itu belum bisa diprediksi atau dipastikan waktunya. Tetapi berdasarkan data-data dari zona kegempaan Indonesia di Bandung disebutkan, Maluku merupakan daerah yang mempunyai intensitas gempa yang cukup tinggi.Diungkapkan Tomasoa, di Maluku bencana ini pernah terjadi di pulau Seram, tepatnya di desa Elpaputih beberapa puluh tahun yang lalu. Bencana gempa dan gelombang tsunami ini minimal akan terjadi dalam kurun waktu 100 tahun, karena setiap tahun kerak bumi akan bergerak berpindah beberapa sentimeter untuk tiga kerak bumi yang akan bertemu di laut Banda.Lalu bagaimana masyarakat bisa mengetahuinya? Dosen Geologi Dasar FakultasMIPA Jurusan Fisika Universitas Pattimura ini mengatakan, hal itu hanya dapat diketahui jika terjadi gempa besar yang diikuti dengan menyurutnya air luat secara mendadak."Hendaknya masyarakat pesisir harus berusaha untuk menghindar dan mencari dataran-dataran yang tinggi, sehingga pada saat gelombang tsunami datang, masyarakat sudah tidak berada di tempatnya itu. Jadi jangan sampai pada saat air surut, kemudian masyarakat berusaha untuk mengambil ikan-ikan yang terdampar tanpa menyadari akan datang gelombang besar. Jika itu yang dilakukan, maka akan terjadi seperti Aceh," kata Tomasoa mengingatkan. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads