"Ini merdekanya kita ya, Bang," ujar seorang pedagang kaki lima berbaju coklat yang akrab disapa Babe (65). Menimpali Babe, Slamet Zaenudin (35) atau yang akrab disapa Mamo, menuturkan hal yang sama, "Iya, Be. Merdeka kita. Sayang cuma sampai Minggu," katanya.
Berbeda dengan hari biasa, Mamo menjajakan dagangannya tepat di tengah-tengah Lapangan Fatahillah, Kota Tua, Jakarta. Sudah lima hari sejak Lebaran tiba pada Senin lalu, ia 'mangkal' di tengah kompleks pariwisata tersebut. Berjualan di tengah lapangan ketika libur Lebaran, sudah menjadi tradisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihak Satpol PP di Kota Tua, menurut Mamo, lebih fleksibel mengatur pedagang kaki lima daripada mereka yang bertugas di objek wisata lain seperti Monas, Jakarta Pusat. Oleh karenanya, Mamo dan pedagang lain tetap cuek berdagang di tengah Lapangan Fatahillah selama libur Lebaran.
"Satpol PP pada libur seminggu, mereka enggak jaga, enggak ada yang ngawasin. Jadi ya inisiatif para pedagang aja," kata Mamo.
Meski demikian, tidak semua pedagang menjajakan dagangannya di lapangan tersebut. Hanya pedagang makanan dan minuman yang berjualan di tengah lapangan. Pedagang lain seperti baju, kaus, boneka, dan cendera mata lainnya tetap berjualan di area tepi Lapangan Fatahillah. Penjaja sepeda hias pun memarkirkan barang sewaannya di sudut lapangan.
"Pedagang baju dan pedagang lain yang sudah ada paguyubannya, ya berdagang sesuai klaster. Klaster satu, di sudut depan kantor Imigrasi. Klaster dua, aksesoris di sebelah barat kantor pos. Klaster tiga, makanan dan minuman, di Gang Virgin, sebelah barat Museum Fatahillah," kata Mamo.
Pedagang yang tidak mendapat tempat berjualan sesuai klaster, memilih berjualan di tengah lapangan. Mereka adalah pedagang jajanan lain seperti cilok, cimol, es potong, es kelapa muda, dan lainnya.
Lebih jauh, pria dua anak ini mengatakan, berdagang ketika libur lebaran menjadi kegiatan yang sayang untuk dilewatkan.
"Ya lumayan, nutup pas puasa kemarin, kan gak boleh jualan, sepi. Jadi seminggu ini bisa nutup, malah lebih," ucap pria asal Wates, Kulon Progo, Yogyakarta.
Tiap harinya selama libur lebaran, Mamo meraup keuntungan dua kali lipat. Omsetnya sebesar Rp 500 ribu. Dari omset tersebut, ia mendapat keuntungan bersih sebanyak setengah omset, yakni Rp 250 ribu. Selama tujuh hari, ia bisa mengantungi keuntungan Rp 1.750 juta. Sementara saat hari biasa, Mamo hanya mendapat Rp 100 ribu tiap harinya.
"Ya rela nggak pulang kampung, cari duit. Kalau jual minuman kan untungnya bisa dua kali lipat," kata bapak dari Laras Putricia (12) dan Kaila Mesita (2) ini.
Pria bertopi hitam dan berbaju putih tersebut menuturkan bahwa ia dan kedua anaknya harus menahan rindu dengan keluarga lantaran mencari uang. "Sebenernya iya pengen pulang, tapi kan gimana, puasa kemarin sepi (pemasukan). Belum ada ongkos pulang. Enggak enak kalau enggak bawa uang untuk orang tua di kampung," ucap Mamo dalam bahasa Jawa.
Ketika ditanya untuk mencari pekerjaan di kampung halamannya, ia mengatakan keengganannya. "Tidak ada pekerjaan di Jogja, tiga tahun nganggur tidak dapat pekerjaan. Kalau di sana, ada orang nganggur jarang ditawari pekerjaan. Kalau di sini, orang gampang dapat pekerjaan," ucap mantan suami Mulyati (25) tersebut dalam bahasa Jawa.
(nal/nal)











































