Ipin yang berasal dari Tegal, Jawa Tengah, membawa serta anak istrinya ke Taman Kota Waduk Pluit, Kamis (31/7/2014).
"Lha tempat saya duduk ini dulunya tempat saya ngontrak," kata Ipin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tinggal Si Fajar ini sekarang yang di Jakarta," kata Ipin.
Fajar yang bekerja di bengkel mobil seputaran Pluit terlihat menjaga adik perempuannya, 12 tahun lebih muda darinya. Ipin menerawang, dahulu di tempat ini berdiri bangunan permanen dan semi permanen. Kemudian berubah menjadi taman dan diresmikan oleh Gubernur Joko Widodo, 17 Agustus 2013.
"Saya juga sudah 18 tahun dulu tinggal di sini. Kerja saya dulu di restoran Pluit situ," katanya.
Meski tempat kontrakan Ipin sudah hilang berganti taman kota, namun Ipin tak sedih. Justrui dirinya salut dengan keberanian Pemerintah Provinsi DKI yang berani mengubah kawasan ini menjadi ruang terbuka.
"Soalnya ini dulu lingkungannya sulit, banyak dikuasai preman. Tanah sengketa begitu lah soalnya. Sekarang ini malah bagus, semua bisa datang ke sini. Masuk ke sini nggak ditarik biaya," kisah Ipin.
Dia berharap ruang terbuka untuk publik ini dapat seterusnya terjaga dari pungutan yang membebani. Ipin terlihat bangga betul dengan sosok Ahok, yakni Wakil Gubernur Basuki T Purnama yang punya karakter tegas dan pemberani.
"Lha itu rumahnya kan di perumahan dekat situ," kata Ipin.
Pepohonan seperti kelapa sawit, jambu jamaica, trembesi, dan tanaman lainnya tinggal menunggu tumbuh agar suasana taman jadi lebih teduh. Tempat sampah juga mudah dijumpai sehingga pengunjung bisa lebih tertib membuang sisa makanan. Hanya satu yang dikeluhkan Ipin.
"Cuma toiletnya aja yang kurang banyak. Setahu saya cuma ada dua di sini," kata Ipin memakai bahasa Jawa.
(dnu/gah)











































