"Cita-cita? Jadi ABRI (tentara -red)," kata Denis dengan mata berbinar di taman waduk Pluit, Kamis (31/7/2014).
Alasanpun dikemukakan dengan gaya khas seorang bocah. Denis ingin jadi tentara lantaran takut jika ingin jadi dokter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Denis mengaku harus bekerja menjadi tukang becak mini untuk mencari tambahan uang jajan. Dia sendiri merupakan siswi SD Inpres Penjaringan 04 Pagi. Orang tuanya merupakan pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar waduk.
"Itu rumah saya di situ," kata Denis sambil menunjuk kawasan pemukiman semi permanen di perbatasan Penjaringan-Muara Baru, tepian Waduk Pluit.
Denis tak sendirian. Tiga rekan kerjanya, bocah ingusan juga, sedang mengawasi becak-becak yang disewa. pengunjung. Tiga bocah itu adalah Rendi, Rangga, dan Aco. Rendi sendiri seperti tak mau kelewat muluk bercita-cita.
"Saya penginnya jadi orang biasa aja deh. ABRI juga pengin lah," kata Rendi dari atas becak mini.
Rendi dan saudara kembarnya, Rangga, mengaku duduk di bangku kelas lima Madrasah Ibtidaiyah Darul Ghufron Muara Baru. Mereka kemudian sepakat dengan Denis, ingin jadi ABRI alias tentara.
Rendi menceritakan, kawan-kawan di sekitar rumahnya banyak yang bersekolah hingga SMP, ada pula yang SMA. Sambil bekerja menjaga becak mini, dia ingin terus bersekolah dan meraih cita-cita.
"Buat tambahan jajan ini. Bapak saya juga jaga parkir di sekitar sini," kata Rendi.
Mereka diupah maksimal Rp 20 ribu jika pengunjung ramai menyewa becak mininya, seperti hari-hari lebaran ini. "Kalau sepi ya Rp 20 ribu dibagi empat anak," kata Denis.
(dnu/gah)











































