Duh, Ribetnya Salurkan Bantuan ke Aceh...
Kamis, 30 Des 2004 17:40 WIB
Jakarta - Mengeluarkan rupiah dari dompet Anda untuk bencana Aceh bisa jadi sangat mudah. Yang susah, justru menyalurkannya ke daerah bencana. Birokrasi dan minimnya sarana pendukung menghadang para relawan yang membawa bantuan para dermawan.Demikian penuturan Mulyadi dari Nurani Dunia yang dikirimkan per e-mail oleh pembaca detikcom bernama Agung pada redaksi, Kamis (30/12/2004). Dia meminta pesan yang dikirimkannya disebarkan ke aparat yang berwenang, LSM, PT Angkasa Pura, TNI, dan siapa saja untuk menjadi bahan pertimbangan dan perhatian pada waktu akan mengirimkan bantuan ke lokasi.Berikut pengalaman Mulyadi:Pengalaman saya waktu membawa dan menurunkan bantuan dengan pesawat Hercules keAceh. Semoga ini bisa menjadi perhatian.Di Bandara TNI AU Halim:- Pembawa bantuan bawa KTP atau identitas lain- Daya tampung gudang di Bandara Halim sangat terbatas.- Barang tidak dapat langsung masuk ke perut pesawat, karena harus disortir terlebih dahulu.- Daya tampung satu pesawat Hercules hampir sama dengan 7 buah truk ukuran besar.- Waktu yang diperlukan untuk menaikan barang memakan waktu setengah jam dengan alat angkut per satu pesawat.Di Aceh (Bandara Malikushaleh, Lhoksumawe)- Waktu menurunkan bantuan memakan waktu setengah jam dengan tenaga 5 orang (ngebut) tanpa alat, karena didesak oleh pesawat lain yang akan mendarat.- Truk pengangkut bantuan harus sudah tersedia di bibir bodi pesawat. Kendala yang dihadapi, truk di sana relatif lebih kecil, jumlah truk sangat sedikit.- Tenaga volunteer dan TNI sangat terbatas.Sehingga dikhawatirkan bantuan tidak dapat langsung tersalurkan.Selain itu yang perlu diperhatikan adalah:- Makanan yang mudah busuk/basi- Daya tampung gudang bandara di Aceh sangat terbatas, sementara bantuan dari mana-mana terus mengalir.- Sumber daya manusia (volunteer) yang bertugas tidak terlalu banyak walaupun dibantu oleh pihak TNI, karena banyak dari mereka (warga asli sana) yang masih sibuk mencari sanak famili.- Jalur distribusi praktis terputus, karena terhalang oleh sampah dari bangunan yg hanyut terbawa arus tsunami.- Alat angkut barang dan alat berat lainnya masih sedikit yang sudah diterjunkan ke lokasi.- Musim hujan menjadi kendala dalam pendistribusian bantuan- Kemungkinan ancaman tsunami dalam dua minggu kedepan, sehingga masyarakat disana sangat sibuk dengan penyelamatan barang dan keluarga pribadi masing2.Perlu segera dikirim:- Truk pengangkut dan Alat berat lainnya untuk membersihkan penghalang.- Obat-obatan dan makanan siap saji yang awet (tidak mudah busuk dan basi)- Susu balita- Selimut, tikar dan tenda pelindung.- Pakaian- Permen untuk penghilang dahaga- Kantong plastik untuk kemas makanan dan pakaian.Catatan lain:- Pengiriman mie instan sangat menyita ruang pesawat, dan perlu alat untuk memasaknya.- Obat-obatan yang biasa dipergunakan bagi pengungsi antara lain obat flu, diare, gatal, demam dll yang bersifat P3K- Pakaian harus sudah diberi tanda misalnya utk perempuan/lelaki dewasa atau anak-anak perempuan/lelaki, sehingga memudahkan pendistribusian.- Selain barang, tenaga volunteer perlu dikirim dengan dibekali alat komunikasi satelit.- Perlu bantuan yang berkesinambungan.- Bantuan harus melalui lembaga yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.
(nrl/)











































