Preman Ikut Cari Sumbangan Aceh, Warga Pekanbaru Cemas
Kamis, 30 Des 2004 16:56 WIB
Pekanbaru - Uang adalah sesuatu yang sensitif, termasuk untuk amal sekalipun. Masyarakat di Pekanbaru mulai mempertanyakan sejumlah pengutipan dana bantuan kemanusiaan untuk bencana Aceh di sejumlah jalan raya di Pekanbaru. Sebab, premana dan kelompok anak muda funki yang selama ini sering mabuk-mabukan pun ikut nimbrung memungut dana bantuan tersebut.Seperti kota lainnya, sejumlah ruas jalan di kota Pekanbaru kini ramai bermunculan pengutipan dana kemanusian untuk korban gempa tsunami di Aceh. Mereka terdiri dari mahasiswa, pelajar sampai preman serta kelompok anak muda funki. Ruas jalan Sudirman Pekanbaru, misalnya, hampir di setiap persimpangan dijumpai sekelompok orang yang meminta sumbangan. Banyaknya para peminta sumbangan ini membuat lalu lintas macet.Warga Pekanbaru tampak bingung melihat banyaknya kelompok atau organisasi yang meminta dana sumbangan tersebut. Yang anehnya lagi, kelompok anak muda punk yang bergaya rambut perang, celana jeans kumal, serta bersubang, ikut nimbrung memungut dana bantuan kemanusian untuk Aceh. Padahal selama ini kelompok anak-anak punk itu lebih dikenal tak ada pekerjaan tetap dan selalu mangkal di sejumlah plasa dengan mengantongi minuman lempeng (minuman keras)."Kalau mahasiswa atau pelajar yang meminta bantuan, mungkin kita bisa percaya. Tapi kalau kelompok pemuda punk yang selama ini mangkal di plasa dan selalu menggoda wanita yang minta, bagaimana mungkin kita percaya dengan mereka? Mestinya pemerintah Kota Pekanbaru mengkoordinir secara resmi bantuan untuk masyarkat Aceh," ungkap Ny Usnawati (35), salah seorang warga Pekanbaru kepada detikcom, Kamis (30/12/2004).Tidak cuma itu saja, sekelompok preman yang selama ini mangkal di terminal Mayang Terurai, Jl Tuanku Tambusai, juga ikut-ikut meminta sumbangan dana kemanusian untuk Aceh. Kelompok ini memintai sumbangan pada penumpang yang ada di kawasan terminal tersebut."Mestinya dengan semakin banyaknya peminta sumbangan kemanusian untuk Aceh, pemerintah setempat segera membuat posko resmi. Bukan kita menuduh dana itu tidak disalurkan, tapi kalau kelompok preman terminal juga ikut ngutip, siapa yang percaya," kata Iskandar, salah seorang warga.Menanggapi hal itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Riau meminta agar penyaluran bantuan untuk korban bencana alam di Aceh dan Sumatera Utara hendaknya terkoordinir melalui satu pintu, yakni Pemda Riau."Kita tidak melarang adanya pungutan mengatasnamakan kepedulian korban bencana alam. Tapi hendaknya dana itu diserahkan satu pintu saja," kata Ketua PMI Riau, T Lukman Jafar kepada wartawan.Ketua Majelis Ulama Islam (MUI) Riau, Dr H Mahdini, mengkhawatirkan maraknya pungutan tersebut dimanfaatkan pihak yang mencari kesempatan dalam kesempitan. "Bukanya kita mencurigai pungutan itu, tapi hendaknya aparat hukum dapat mengecek kebenarannya agar tidak terjadi penyimpangan, katanya.
(nrl/)











































