"Pak presiden! Pak presiden!" teriak beberapa pengunjung.
Pria yang akrab disapa Jokowi ini membagi kisahnya tentang bagaimana cara merelokasi PKL dari kawasan Tugu Monumen di kawasan Banjarsari sewaktu masih menjabat Walikota Solo. Usaha untuk merelokasi para PKL itu tentu tidak mudah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk memindahkannya ini butuh waktu 7 bulan. (Kita) ketemu terus lebih dari 50 kali, akhirnya mereka mau pindah tapi minta jaminan omset kami jangan turun," imbuhnya.
Saat mengunjungi kios onderdil, Jokowi dikejutkan dengan salah seorang pedagang yang dulu sempat menolak kebijakannya. Dengan wajah sumringah, ia menyapanya antusias.
"Wah dulu ini kurus sekarang gemukan. Makmur kamu berarti. Dulu dia paling galak. Paling keras," kata Jokowi tertawa.
Dikisahkan Jokowi, kala itu pedagang melawan dengan berbagai cara. Ada pula yang membawa bambu runcing saat hendak menentang konsep relokasi.
"Ada yang bawa bambu. Ada yang corat-coret. Ada-ada saja," ucapnya sambil geleng-geleng kepala.
Sementara itu, Wakil Ketua Paguyuban yang memayungi PKL-PKL di Banjarsari, Joko Sugihanto (50) menjelaskan alasan di balik kesediaan para pedagang untuk direlokasi. Mereka berubah pikiran setelah tergiur dengan konsep yang ditawarkan Jokowi.
"Dulu saya ketua paguyuban terus anggota saya nggak setuju relokasi. Kesadarannya berubah orang lihat konsepnya. Teman-teman pada berubah yang tadinya nggak mau jadi mau. Saya nggak bawa bambu, saya corat-coret saja," curhat Joko.
Apa alasannya sehingga mau berubah pikiran?
"Dipropagandakan dari seluruh media terus ada aksesnya (ke pasar) dipermudah. Pak Jokowi itu sabar, realistis dan sosok yang kebapakan gitu. Jadi pandai ngemong," lanjutnya.
Dia mengaku, penghasilannya kini meningkat tajam. Tanpa diduga, omzetnya bertambah hingga 8 kali lipat.
(aws/imk)











































