Bau Busuk Makin Menyengat, Penanganan Korban Aceh Lamban
Kamis, 30 Des 2004 15:55 WIB
Banda Aceh -
Bau busuk makin menyengat di kota Banda Aceh. Bau busuk itu berasal dari mayat-mayat manusia yang sampai kini masih terbiarkan di sejumlah tempat. Penanganan terhadap pengungsi belum mengalami perkembangan yang signifikan. Demikianlah yang terjadi sampai Kamis (30/12/2004) pukul 15.30 WIB. Mayat-mayat masih berserakan di mana-mana. Kondisinya sudah membusuk. Masyarakat Aceh juga sudah memakai masker penutup hidung. Mayat-mayat itu tampak terbiarkan di jalan-jalan di seputar Banda Aceh. Bahkan, di jalan-jalan utama yang pernah dilewati Presiden SBY, mayat-mayat itu tetap belum dievakuasi. Mayat-mayat juga masih tampak jelang di puing-puing bangunan, di genangan air, dan lain-lain. Memang, masih ada sejumlah pihak yang melakukan evakuasi mayat-mayat. Tapi, mereka yang terdiri dari masyarakat, relawan, dan aparat TNI jumlahnya tidak sebanding dengan mayat-mayat yang bergelimpangan. "Saya perkirakan korban yang meninggal di Banda Aceh ini sekitar 100 ribu-an. Lihat saja, di sana mayat, di sini mayat," kata Dedy, salah seorang warga di Aceh. Sementara itu, bantuan yang didistribusikan kepada para pengungsi juga masih sangat terbatas. Bahkan, terkesan tidak terkoordinasi dengan baik. Setiap ada pembagian makanan, para pengungsi itu langsung berebut. Bahkan, sempat juga terjadi chaos di antara mereka. Sungguh memilukan. Sebenarnya, bantuan-bantuan makanan, obat-obatan, dan lain-lain sudah tiba di Banda Aceh. Namun, bantuan-bantuan itu belum bisa didistribusikan dengan baik. Bantuan itu masih tampak tertumpuk di Bandara Iskandar Muda. Entah bagaimana cara agar pemulihan Banda Aceh bisa segera dilakukan. Tampaknya, tidak ada perkembangan penanganan yang signifikan tiap harinya. Jalanan juga masih dibiarkan tertutup puing-puing. Memang, sudah ada sejumlah relawan yang datang, termasuk relawan berkewarganegaraan asing. Cuma, sampai sekarang, mereka juga belum melakukan kerja yang luar biasa, karena mungkin bingung akan melakukan kerja apa. Koordinasi dengan Bakornas juga tampak semrawut. Hal yang juga tampak mencolok adalah pasokan BBM. Pasokan BBM sangat minim. Di Banda Aceh, sampai kini setidaknya ada 3 SPBU yang bisa beroperasi. Tapi, masyarakat tampak rebutan. Antrean panjang terjadi. Antrean tidak terputus, sampai 24 jam. Bahkan, sesekali juga terjadi adu mulut di antara pengantre, karena berebut mendapatkan BBM.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































