Copot Gubernur dan Bupati yang Rayakan Tahun Baru

Copot Gubernur dan Bupati yang Rayakan Tahun Baru

- detikNews
Kamis, 30 Des 2004 14:21 WIB
Jakarta - Redaksi detikcom menerima ratusan email dari pembaca mengenai sikap terhadap perayaaan Tahun Baru 2005. Seluruhnya meminta agar perayaan Tahun Baru 2005 ditiadakan. Menurut salah seorang di antara mereka, bila ada gubernur atau bupati yang merayakannya, mereka pantas dicopot. Banjir email terkait seruan agar perayaan Tahun Baru 2005 dibatalkan, sebagai bentuk keprihatinan terhadap masyarakat Aceh, yang kini terkena menderita dan terkena musibah tsunami. Email-email pembaca terus mengalir sampai pukul 14.00 WIB, Kamis (30/12/2004). Syaq Ansyah, misalnya, menuliskan email sebagai berikut: "Saya meminta semua kader partai ( untuk meminta gubernur, bupati dan walikota untuk membatalkan acara perayaan Tahun Baru 2005. Jika mereka membangkang, mereka pantas untuk dicopot ditengah jalan !!! karena mereka TIDAK BERHATI NURANI dan TIDAK MENDENGARKAN JERITAN RAKYAT. Mereka SANGAT TIDAK PANTAS menjadi PEMIMPIN KITA." Yuswaramin juga menulis hal senada: "Sebaiknya dana yang akan dikeluarkan oleh instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan untuk perayaan tahun baru 2005 yang ratusan miliar malah mungkin triliunan disumbangkan saja untuk korban bencana alam di Aceh. Seandainya ada pejabat instansi pemerintah yang melaksanakan tahun baru 2005 sebaiknya dicopot dari jabatannya karena tidak memiliki sense of crisis atas musibah Saudara-saudaranya di Aceh." "Sudah tidak adakah Hati Nurani bangsa kita yang katanya beradab ini, sehingga tetap merayakan pesta tahun baru 2005 d itengah musibah kemanusiaan yang paling dahsyat ini?," tulis Lucky Pangemanan. Heriyawan juga mendukung agar perayaan tahun baru ditiadakan. "Bertepatan sekali bencana alam ini terjadi di akhir tahun, saya kira seharusnya bagi orang-orangyang berpikir dan mau ikut merasakan bencana ini, sudah sepatutnya segala acara tahun baru yang akan digelar/dilaksanakan oleh berbagai pihak di seluruh negeri dibatalkan alias di tiadakan sebagai bentuk solidaritas yang dalam sebagai saudara sebangsa dan setanah air," tulisnya."Seharusnya, bangsa kita malu pada negara-negara yang memutuskan untuk membatalkan acara tahun baru. Banyak alasan buat pemerintah kita untuk tidak merayakan pesta tahun baru, yang utama adalah jumlah korban tewas di Indonesia lebih dari setengahnya dari total korban yang tewas akibat Tsunami di seluruh dunia. Kita mesti berkaca pada Malaysia, yang jumlah korban tewas jauh lebih kecil tapi mereka membatalkan semua acara tahun baru," tulis Lila. "Dalam hal ini umat Kristen Indonesia bisa kita ambil teladannya, mereka membatalkan acara Natal nasional, karena terjadinya bencana alam di Aceh. Jika acara keagamaan saja bisa dibatalkan, apakah 'hanya' acara tahun baru saja tidak bisa dibatalkan?" pesan Ahmad. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads