Bangsa Macam Apa Ini?

Kolom

Bangsa Macam Apa Ini?

- detikNews
Kamis, 30 Des 2004 13:28 WIB
Den Haag - Ribuan mayat rakyat Aceh bergelimpangan, kok bisa-bisanya sebagian pejabat tetap mengagendakan perayaan tahun baru? Bangsa macam apa ini?Peringatan apa lagi yang dapat menghaluskan hati mereka dan membuatnya peka? Gambar-gambar dari Aceh mestinya lebih jelas dari ribuan kata-kata. Jerit tangis anak-anak yang kehilangan orangtua, orangtua kehilangan anak-anaknya, atau orangtua dan anak-anaknya, sekeluarga tewas sekaligus, hingga tak mampu lagi untuk menangis. Mayat-mayat bergelimpangan. Ribuan. Dan entah berapa lagi yang belum ditemukan atau tak akan pernah ditemukan. Harta kekayaan mereka ludes. Semua lenyap dalam sekejap. Sebagian yang selamat mengalami kelaparan dan epidemi siap meledak di sana.Tidakkah semua itu menyentuh hati untuk berprihatin dan lebih memperhatikan para korban? Energi apa yang mendorong pemerintah DKI dan pemerintah kota Semarang untuk tetap merayakan malam tahun baru? Apakah hati para pejabat di sana telah mati dan membatu?Apakah mereka tidak malu dengan bangsa-bangsa asing? Peristiwa di Aceh itu menjadi perhatian besar bangsa-bangsa asing tetangga dan yang jauh-jauh. Mereka lintang-pukang memobilisir dana dan bantuan untuk disalurkan ke Aceh dan kawasan lainnya yang menjadi korban bencana. Di Belanda, pemerintah langsung membuka brankas dan menyediakan sumbangan awal 2 juta euro. Jumlah ini, menurut Menkeu/Wakil PM Gerrit Zalm masih bisa bertambah. Masyarakat Belanda, melalui rekening Giro 555 dalam tempo dua hari mampu mengumpulkan dana 2,7 juta euro. Sekadar tahu, ada walikota di Belanda sampai menyerukan warganya untuk mengumpulkan 1 euro per kepala dan uangnya dimasukkan ke rekening itu. Lalu masyarakat Indonesia, termasuk para mahasiswa yang dananya cukup cekak, dari Groningen hingga Eindhoven, juga sigap berlomba-lomba menggalang dana untuk saudara-saudaranya di Aceh.Lha kok pejabat pemerintah DKI dan kota Semarang, yang jaraknya dekat dengan Aceh, tetap mau merayakan tahun baru. Padahal bau mayat-mayat saudaraya di Aceh yang membusuk mungkin saja menembus hingga ke kamar-kamar tidur mereka. Kalau alasannya perayaan tahun baru itu untuk penggalangan dana, sungguh itu alasan bebal dan tidak kreatif. Para walikota dan masyarakat di Belanda terbukti punya cara lain untuk mengumpulkan dana, tanpa harus hura-hura.Jika para pejabat itu masih tetap mengagendakan perayaan tahun baru, maka masyarakat yang masih berhati nurani perlu memboikotnya. Tunjukkan tenggang rasa sebagai satu bangsa. Sakit di satu tangan seluruh badan ikut merasakan. Boikot dan berprihatinlah. Bukankah warga Jakarta, di bawah gubernur yang sama, pernah merasakan pedihnya diterjang banjir dan mendapat bantuan dari saudara-saudara lainnya?Jika masyarakat masih saja mendatangi perayaan itu, maka kita tidak tahu lagi bangsa macam apa kita ini? (es/)



Berita Terkait