Rambut mereka plontos. Dengan menggunakan kaos dan sandal, satu persatu mereka turun dari tangga pesawat. Sekilas, mereka tidak mirip orang yang baru pulang dari luar negeri. Tidak ada tas atau barang bawaan lain. Mereka pulang tidak membawa barang apa-apa.
Saat tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, mereka berjalan paling belakang di bandingkan penumpang lain. Di ruang tunggu bandara, sejumlah pria mengenakan baju dinas warna cokelat menunggu. Setelah berjabat tangan dengan pejabat tersebut, mereka langsung dibawa ke suatu tempat dengan menggunakan sebuah bus yang sudah menunggu.
Mereka adalah korban selamat kapal karam di Pulau Carey, Kuala Langat, Selangor, Malaysia. Hari ini, KBRI bersama Pemerintah Aceh memulangkan 21 korban selamat dengan menggunakan dua pesawat. 11 korban tiba di Aceh sekitar pukul 12.40 WIB dan sisanya dijadwalkan tiba pukul 18.30 WIB nanti sore.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak lama berselang, kapal bea cukai menabrak kapal tongkang yang membawa pulang mereka ke Aceh. Usai ditabrak, kapal mereka tenggelam. Semua penumpang berusaha menyelamatkan diri dengan berenang mendekat ke kapal custom (bea cukai). 14 orang yang tidak bisa berenang, meninggal dalam peristiwa itu.
"Kami tidak bisa menolong mereka yang meninggal karena untuk menyelamatkan diri sendiri kami susah," kata Zikri dalam bahasa Melayu saat tiba di Bandara SIM, Rabu (23/7/2014).
Pria asal Sigli, Pidie Aceh ini bersama puluhan penumpang lain selamat dari peristiwa tersebut. Meski mengalami kesulitan saat berenang di tengah laut, tapi Zikri berhasil naik ke kapal bea cukai yang telah menabrak mereka. Usai itu, ia bersama korban selamat lainnya dibawa ke dermaga untuk selanjutnya diboyong ke penjara.
Zikri bersama 61 warga Aceh lainnya kemudian di tahan di salah satu penjara di Malaysia. Mereka dinyatakan bersalah karena memilih pulang lewat jalur belakang. Pengadilan di sana menghukum mereka selama satu bulan. Setelah menjalani hukuman, mereka ditampung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia.
"Alhamdulillah sekarang kami sudah bebas dan balik ke Aceh. Kami bahagia," ungkap Zikri.
Saat merantau ke negeri jiran Malaysia tujuh bulan silam, Zikri berangkat secara resmi. Ia mengantongi paspor dan di sana bekerja di kilang Epson. Menurut Zikri, dirinya terpaksa pulang secara ilegal karena visa paspornya sudah habis masa berlaku alias mati. Alasan lain, pulang lewat jalur belakang biayanya lebih murah dibandingkan pulang secara resmi.
"Pulang dengan boat cuma 600 ringgit (sekitar Rp 1,8 juta, kurs Rp 3.000) dan kalau resmi itu sekitar 1.500 ringgit (Rp 4,5 juta)," jelasnya.
Zikri pulang kampung untuk menyambut Ramadan dan lebaran bersama keluarga di Sigli, Aceh. Saat tiba di Bandara SIM siang tadi, ia tidak membawa apa-apa selain baju dan celana yang dikenakannya. "Hana le sapeu na kamoe (Kami tidak punya apa-apa lagi)," ungkapnya dalam bahasa Aceh.
Sementara itu, Gubernur Aceh Zaini Abdullah, beberapa waktu lalu mengatakan, peristiwa karamnya kapal yang mengangkut Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Aceh ini harus menjadi pelajaran bagi warga serambi Mekkah lain yang akan mencari pekerjaan di Malaysia secara ilegal.
"Bagi warga Aceh yang mau cari kerja di luar negeri harus menggunakan jalur resmi. Kalau memilih jalur ilegal selain ancaman bahaya, juga dapat menyusahkan keluarga yang ada di kampung," kata Zaini saat menerima kepulangan lima korban selamat, 10 Juli silam.
Kepada korban selamat, Zaini juga menyerahkan bantuan sebesar Rp 5 juta. Bukan itu saja, Zaini juga menasehati merekaagar peristiwa itu dijadikan pengalaman pahit dan pelajaran berharga. "Kalau bisa jangan lagi cari pekerjaan di luar negeri lewat jalur ilegal. Karena itu sangat berbahaya," jelasnya.
Kepala Humas Pemerintah Aceh, Murthalamuddin, mengatakan, jumlah korban selamat yang dibawa pulang hari ini berjumlah 21 orang. 11 orang dibawa pulang dengan menggunakan pesawat Air Asia dan tiba di Aceh sekitar pukul 12.40 WIB. Sementara 10 korban selamat lainnya juga dipulangkan hari ini dengan pesawat Garuda Indonesia dan diperkirakan tiba di Bandara SIM sekitar pukul 18.30 WIB.
"Mereka rencananya nanti sore akan bertemu gubernur sebelum mereka pulang ke kampung halaman masing-masing," kata Murthala, Rabu (23/7/2014).
Selain itu, kata Murthala, masih ada sekitar 31 korban selamat yang masih ditampung di KBRI karena masih menunggu proses administrasi. "Mereka semua sudah bebas dan segera kita bawa pulang," jelasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Aceh juga sudah memulangkan semua jenazah korban meninggal dalam peristiwa tersebut. Mereka dipulangkan melalui Bandara SIM, Aceh Besar dan Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara. Kepada keluarga korban, Pemerintah Aceh juga menyerahkan bantuan sebesar Rp 5 juta.
Sementara itu, Konsuler KBRI Kuala Lumpur, Ahmad Irfan, mengungkapkan, Polisi Malaysia sudah melakukan investigasi terkait karamnya kapal Jeti Kelanang yang ditumpangi sebagian besar warga Aceh. Berdasarkan hasil penyelidikan, mereka sudah mulai menemukan titik terang terkait penyebab karamnya kapal tersebut.
"Polisi Malaysia sudah menetapkan perkiraan tersangka," kata Ahmad, di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Rabu (23/7/2014).
Sebagian besar petugas bea cukai Malaysia diduga bertanggung jawab terhadap karamnya kapal WNI mulai diperiksa dan diproses. Berat dugaan, kapal tongkang yang membawa tenaga kerja ilegal itu ditabrak petugas bea cukai sebelum karam.
"Kita menduga ada unsur kesengajaan dan kita mengharapkan itu dibuktikan oleh polisi Malaysia," ungkapnya.
Pemerintah Aceh bersama KBRI saat ini masih fokus untuk memulangkan korban selamat yang hingga saat ini masih berada di Malaysia. "Kami sedang berusaha agar sebelum lebaran mereka sudah berada di kampung halaman masing-masing," jelas Ahmad.
(try/try)











































