Apa musabab kisruh yang menjerat Partai Golkar?
Seorang politisi Partai Golkar mengisahkan perpecahan itu bermula dari rapat pimpinan nasional di Jakarta pertengahan Mei 2014. Dalam rapat tersebut peserta sepakat memberikan mandat kepada Ical untuk menentukan arah koalisi partai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertemuan itu disusul dengan kedatangan Ical ke rumah Ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat.
Namun prediksi sejumlah kader Golkar itu meleset. Ical akhirnya memilih mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
"Semua tidak menyangka akhirnya (koalisi) dibawa ke Prabowo," kata politisi yang tak mau namanya disebutkan itu saat berbicang dengan detikcom, Rabu (23/7/2104).
Apa daya mandat terlanjur diberikan kepada Ical yang memilih mendukung Prabowo-Hatta. Toh, keputusan Ical tersebut akhirnya memantik kisruh di partai beringin. Sejumlah kader 'mbalelo', dan memilih mendukung duet Jokowi-JK. Mereka antara lain Agus Gumiwang Kartasasmita, Indra Jaya Piliang, Nusron Wahid dan Poempida Hidayatullah.
Akibat 'mbalelo', kader muda itu pun dipecat oleh Partai Golkar di bawah pimpinan Ical. Namun kini 'arah angin' mulai berubah. Kader yang dulu 'mbalelo' kembali bersuara lantang saat Jusuf Kalla yang mantan Ketua Umum Golkar dinyatakan sebagai wakil presiden terpilih.
Tuntutan agar segera dilakukan Musyawarah Nasional untuk 'menggulingkan' Ical kian keras disuarakan. Jumlah kader muda Golkar yang 'mbalelo' pun bertambah.
Politisi muda Golkar Meutya Hafid kini turut menyuarakan agar segera dilakukan pergantian pimpinan di tubuh partai beringin. Perempuan yang juga anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat itu mendesak segera dilakukan Musyawarah Nasional Partai Golkar.
Dia tak mempermasalahkan waktu digelarnya Munas, tahun 2014 ini atau 2015 nanti. Pasalnya yang terpenting adalah evaluasi total terhadap berbagai kebijakan partai, khususnya terkait Pilpres 2014.
"Agar bagi anak anak muda Partai ini untuk mengambil alih kendali Partai untuk melakukan reformasi total Partai, tentu dilakukan sesuai mekanisme serta menghormati aturan," kata Meutya melalui keterangan tertulis yang dikutip detikcom, Rabu (23/7/2014).
Meutya mengaku baru setelah pilpres ini menyuarakan pergantian pimpinan partai karena menghormati hasil rapimnas yang memberikan mandat ke Ical. Waktu itu dia juga setuju memberikan mandat ke Ical karena merasa dukungan akan diberikan kepada JK selaku mantan Ketum Golkar.
"Tapi ya sudah, itu sudah lewat. Pilpres sudah selesai baru kita bisa menuntut evaluasi partai sekarang," kata Meutya.
(erd/nrl)










































