Menghadapi Serangan Prabowo dan Duo Fahri-Fadli

Jalan Menuju Istana

Menghadapi Serangan Prabowo dan Duo Fahri-Fadli

- detikNews
Rabu, 23 Jul 2014 10:35 WIB
Menghadapi Serangan Prabowo dan Duo Fahri-Fadli
Jakarta -

KPU telah menetapkan Joko Widodo menjadi pemenang Pilpres 2014. Jokowi bisa dibilang menghadapi jalan terjal sebelum memenangi Pilpres 2014, terutama dari kubu capres nomor urut satu, Prabowo Subianto.

Setelah Jokowi dideklarasikan menjadi capres PDIP dengan predikat 'petugas partai', kubu Prabowo mulai melempar berbagai serangan utamanya soal capres boneka.

"Indonesia tidak akan diizinkan dibeli, saudara-sadara sekalian dan Indonesia tidak akan diizinkan dipimpin oleh pemimpin-pemimpin boneka," kata Prabowo saat berorasi di lapangan Krida Gumilir, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (25/3/2014) lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat dikonfirmasi usai berkampanye tentang pemimpin boneka, Prabowo menjelaskan bahwa pemimpin boneka adalah pemimpin yang suka bohong dan ingkar janji. "Ya kamu cari sendirilah, yang suka bohong dan ingkar janji itu siapa," jelasnya.

Saat itu hanya ada dua capres yang mulai bertarung yakni Prabowo sendiri dan Jokowi dan kutub koalisi Pilpres belum terbangun sempurna.

Serangan tajam terhadap Jokowi juga terus dilempar tim pemenangan Prabowo-Hatta. Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo Hatta, Fadli Zon, dan anggota tim pemenangan Fahri Hamzah adalah duet yang paling sering melempar kritik dan serangan ke Jokowi.

Kolaborasi Fahri dan Fadli memanaskan perpolitikan di masa kampanye Pilpres bahkan memasuki pekan sunyi. Fadli Zon terus berkicau soal kebohongan-kebohongan Jokowi dan Fahri pun menelanjangi berbagai janji Jokowi. Namun Jokowi menghadapi dengan santai.

Serangan Fahri Hamzah yang paling kontroversial adalah kicauan di twitter yang menyebut janji Jokowi menjadikan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional adalah sinting. Hal ini memicu aksi demo santri di pekan terakhir masa kampanye Pilpres.

Para santri di beberapa daerah melakukan aksi menuntut permintaan maaf Fahri Hamzah. Kantor-kantor PKS di pusat ataupun daerah menjadi sasaran aksi. Para santri menuntut Fahri dipecat dari PKS. Tak serta merta memenuhi permintaan itu, PKS menunggu keputusan Bawaslu. Namun Fahri merasa tak bersalah terhadap para santri, meskipun ide awal menjadikan 1 Muharam sebagai hari santri datang dari para santri sendiri.

"Saya tidak merasa bersalah pada santri, saya punya pesantren bagaimana saya harus ambil sesuatu yang saya tak merasa melakukan itu. Mustahil dong," kata Fahri Hamzah usai diklarifikasi Bawaslu di kantor Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakpus, Kamis (3/7/2014).

Fahri menegaskan kata 'Sinting' yang dimaksud ditujukan untuk janji Jokowi yang akan menjadikan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Dia khawatir janji itu tak bisa terpenuhi. "Saya tak maksudkan kepada individu tapi janji yang dibuatnya," dalihnya.

Memasuki masa tenang, serangan kubu Prabowo terhadap Jokowi pun terus berlanjut. Fadli Zon melempar serangan soal kebohongan Jokowi juga jejak rekam Jokowi dan JK versi dirinya.

"Apakah Jokowi bohong lagi? Saya sudah punya lumayan banyak daftar kebohongannya. Jangan sampai nambah lagi. Apakah selama menjabat Wapres, JK bersih? Tak cawe-cawe proyek termasuk untuk saudara-saudaranya? Yang bener ah," tuding Fadli lewat twitter pada Senin (7/7) lalu.

Sementara Fahri Hamzah tak ketinggalan. Dia menyindir umrah Jokowi di masa tenang sebagai pencitraan, bahkan menyentil cara pemakaian kain ihram Jokowi yang menurutnya terbalik.

"Ini soal pencitraan harus dikurangi saat minggu tenang. Sekarang lagi ramai, masa pakaian ihramnya yang terbuka sebelah kiri. Kalau ada polisi agama, diseret itu. Kalau sudah niat, pakaian ihram harus di kanan," kata Fahri di hari yang sama.

Namun Jokowi-JK menghadapi serangan-serangan ini dengan tenang. Bagi JK, serangan-serangan semacam ini malah menambah suara pasangan capres nomor urut dua itu.

"2 Ungkapan yang akan mendatangkan 10 juta suara (untuk Jokowi-JK) yaitu 'sinting' dan 'kalpataru'," ujar JK di kediamannya di Haji Bau, Makassar, Selasa (8/7/2014).

Dan benar saja Jokowi-JK akhirnya ditetapkan KPU sebagai pemenang Pilpres 2014. Black campaign dan serangan ke Jokowi terbukti malah bikin buntung kubu rival.

(van/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads