Angin kehidupan mengubah nasib keluarga Notomiharjo ketika sudah bisa beli rumah kecil-kecilan di tengah kota Solo, Jawa Tengah. Sama seperti anak muda seumurannya, putra Notomiharjo yang bernama Joko Widodo gandrung dengan alunan musik.
Memiliki tipikal wajah seperti pemuda desa pada umumnya, Joko Widodo muda menghanyutkan diri pada lantunan musik yang dipopulerkan Led Zepellin, Metallica, dan Lamb of God. Tak lupa rambut gondrong ala kadarnya juga menggantung menghiasi wajah pas-pasan itu.
Pulang sekolah adalah waktu yang dia tunggu-tunggu ketika dia bisa melewati tempat musisi Setiawan Djodi latihan bersama grup 'Trencem'. Dia sempat-sempatkan mengintip dan melayangkan imaji yang sama seperti pemuda Solo saat itu, mengekspresikan kebebasan lewat musik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ketika Joko Widodo muda sudah berbeda rupanya. Musik rock dianggap sebagai ekspresi kebebasan yang memacu adrenalin setiap kali drum digebuk.
"Ada lecutan untuk bergerak dalam ingar-bingar musik rock. Benar-benar terseret saya dalam magnet band Trencem. Pelepasan ekspresi kegelisahan melalui musik rock ternyata sangat dahsyat menajamkan kepekaan saya. Kemiskinan dan keprihatinan yang terlihat dalam kehidupan masyarakat mulai membuat saya berpikir kritis," ungkap Joko Widodo seperti dikutip detikcom dari buku official memoar 'Jokowi: Memimpin Kota Menyentuh Jakarta' karya Alberthiene Endah, Selasa (22/7/2014).
Bebunyian musik keras membentuk jiwa kritis seorang Joko Widodo yang masih muda belia. Entah kebetulan atau bagaimana, menjelang awal '80-an Dewan Mahasiswa (DEMA) tengah gencar mengkritisi pemerintahan Orde Baru.
Aksi-aksi DEMA itu semakin menambah pemikiran Joko muda bahwa ada hal yang seharusnya bisa diperbaiki, layaknya sepotong mebel yang digerogoti rayap. Mulailah dia bermimpi untuk menginjakan kaki di kampus kerakyatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta agar bisa ikut mengekspresikan sikap kritis.
Di kampus itu dia memilih mauk ke Fakultas Kehutanan, sebuah bidang yang berkaitan dengan usaha ayahnya sebagai tukang kayu. Masuknya Joko Widodo di kampus itu membuat sanak keluarga amat bahagia, sehingga patungan untuk biaya kuliah Joko Widodo.
"Di kampus UGM, hawa kritis saya makin menjadi-jadi. Pembicaraan mengenai aksi-aksi DEMA menjadi santapan mengasyikan sehari-hari. Saat itu, kami makin sering mendapatkan buletin-buletin yang diedarkan DEMA secara diam-diam karena kalau ketahuan bisa berbahaya," ujar Joko Widodo.
Keaktifan dalam organisasi kampus membuat dia dapat koneksi untuk memperoleh buletin kampus secara rutin. Selain aktif berdiskusi, pemandangan mahasiswa-mahasiswa yang hilang juga terus mengasah jiwa kritis pria bertubuh kurus ini.
"Di era itu, mata saya mulai terbiasa dengan pemandangan mahasiswa ditangkap. Atau pembubaran beberapa organisasi pemuda yang dianggap berbahaya," kata Joko Widodo.
Meski pemikiran kritis bergejolak dalam pribadi Joko Widodo muda, tetapi saat itu dia lebih banyak mengamati. Belum tergerak dirinya melangkah ke politik praktis mengingat biaya kuliah tak mudah didapat.
Joko Widodo tetap melanjutkan kuliahnya sembari menghabiskan masa muda seperti pemuda umumnya. Mendaki gunung adalah salah satu kegemarannya sejak dahulu, bukan hanya gunung di pulau Jawa tetapi Gunung Kerinci di Sumatera pun telah ditaklukan.
"Saya puaskan jiwa muda saya secara lengkap dalam pandangan saya saat itu, bisa jadi mahasiswa kritis, gemar musik rock, dan rajin mendaki gunung," sebut Joko Widodo atau yang kini berusia 53 tahun ini.
(bpn/imk)











































