Jalan Jokowi untuk menuju Istana tidak mulus. Dalam Pilpres 2014, Jokowi tidak luput diterpa tudingan miring.
Dia diserang mulai dari antara lain dianggap non muslim, keturunan Singapura, capres boneka, hingga mencuri start kampanye di Pilpres 2014.
Dalam kampanyenya, Jokowi langsung memberikan klarifikasi. Suami Iriana ini bahkan menyebar poster hingga orasi-orasi yang lantang untuk membantah tudingan-tudingan tersebut itu. Jokowi mengimbau pendukungnya tidak termakan isu-isu yang tidak benar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Non muslim
|
|
Poster itu disebar saat Jokowi menyusuri lorong-lorong pasar Anyar, Bogor, Sabtu (7/6/2014).
Ada dua foto yang ada di dalam poster tersebut. Foto di bagian atas adalah dokumentasi perjalanan haji Jokowi pada 2003. Sedangkan pada foto bagian bawah, merupakan foto umroh Jokowi bersama dengan keluarga pada tahun 2012. Jokowi, dalam foto ini, tampil bersama istri dan kedua orang anaknya.
Saat masa tenang Pilpres pada (7/7/2014), Jokowi juga menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci.
2. Keturunan Singapura
|
|
"Saya katanya keturunan Singapura... wajah ndeso gini keturunan Singapura. Yang percaya kebangetan itu," ujar Jokowi dalam orasinya di lapangan Siaga, Bojong Gede, Bogor, Sabtu (7/6/2014).
3. Capres Boneka
|
|
"Kita sistem presidensiil. Yang memilih menteri itu presiden, sejak awal. Kalau mau gabung ke kita, tidak ada bagi-bagi menteri. Saya dan Pak JK bukan ketua partai, kenapa dipilih. Itu artinya kita punya prinsip," ujar Jokowi.
Untuk menangkis serangan kampanye hitam itu dia juga menegaskan bahwa dirinya hanya akan tunduk pada konstitusi.
4. Curi Start Kampanye Pilpres 2014
|
|
"Tadi sudah kita berikan penjelasan ke Bawaslu mengenai dugaan kampanye. Saat itu kan pengambilan nomor, pas ambil nomor saya perlu mengenalkan nomor itu ke masyarakat. Hanya itu," kata Jokowi di kantor Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (7/6/2014).
Jokowi mengaku baru bisa memberikan penjelasan kepada Bawaslu pada Sabtu (7/6/2014). Pada pemanggilan pertama, dia mengaku sudah memberikan jawaban tertulis. "Bahwa saat itu tidak ada (penyampaian) visi misi dan program, sudah dijelaskan pakai surat," kata dia.
Saat surat pemanggilan dari Bawaslu yang kedua tiba, Jokowi mengaku sedang di Papua. Bawaslu memangil Jokowi terkait pidatonya usai pengambilan nomor urut di kantor Komisi Pemilihan Umum, Ahad (1/6/2014) lalu. Dalam pidato singkatnya Jokowi mengajak untuk memilih nomor dua.
Pidato ini dianggap sebagai kampanye di luar jadwal.Setelah melakukan kajian hukum, Bawaslu memutuskan Jokowi tidak terbukti melakukan pelanggaran kampanye Pilpres.
Jokowi juga tidak terbukti menyampaikan visi-misinya saat pengundian nomor urut.
Halaman 2 dari 5











































