Selasa (22/7/2014), dengan alasan keamanan, hari ini kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat dikepung ribuan personel kepolisian. Mereka sudah berjaga sejak pukul 07.00 WIB, dan menutup akses jalan depan KPU.
Penutupan jalan ini membuat banyak orang harus berjalan kaki menuju kantor KPU dan beberapa kantor yang berada di sekitar gedung KPU.
Salah satunya Faradillah (20), mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang sedang magang di kantor KPU. Ia dan temannya Floren terpaksa memarkirkan mobilnya di gedung di Jalan Cik Ditiro dan berjalan kaki menuju kantor Imam Bonjol, Jakarta Pusat.
"Bingung juga mau parkir di mana kalau di kantor KPU," ujarnya.
Selama 2 bulan ini ia sudah biasa melihat aktivitas pengamanan polisi di kantor penyelenggara pemilu itu. Menurutnya, pengamanan kali ini lebih banyak dibanding saat penetapan nomor urut kandidat capres.
"Kemarin nggak sebanyak ini. Nggak selebay ini deh tapi memang sudah disterilkan," ujar mahasiswa jurusan Public Relation ini.
Meski begitu, ia dan Floren setuju bila pengamanan ini wajar mengingat banyaknya isu demonstrasi massa jelang beberapa waktu ke belakang dari berbagai organisasi masyarakat. Terlebih karena hampir seminggu ini kantor KPU selalu diserbu pendemo atas nama organisasi masyarakat.
Hal senada juga dikatakan oleh Purwanti (25) yang bekerja di Satkomindo di gedung Graha Mandiri tak jauh dari kantor KPU. Menurutnya, pengamanan ini wajar mengingat terlalu banyak isu unjuk rasa menjelang penetapan hasil rekapitulasi KPU.
Penutupan jalan ini, membuat Anti yang rumahnya di Jalan Imam Bonjol harus berkendara lebih jauh menuju kantor. Kondisi jalan yang lengang tak terlalu dipermasalahkan. Namun, karena pengumuman baru dimulai sore ini, ia malah bingung bagaimana pulang ke rumahnya di Jalan Pramuka.
"Pulangnya yang aku pikir karena banyak ruas jalan yang ditutup," ujarnya.
Pesta demokrasi ini membuat Anti dan 2 temannya, Evinda dan Dewi Fatmawati iseng jalan-jalan ke depan kantor KPU untuk memotret geliat pengamanan. Namun, karena jam istirahat kantor hanya sejenak, ia dan rekan-rekannya memutuskan kembali berjalan kaki ke Graha Mandiri untuk kembali bekerja.
(bil/nik)











































